Rabu, 14 November 2012

KTI GAMBARAN PERILAKU KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Keberhasilan pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari keberhasilan nasional yang bertujuan mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya. Dalam Undan-undang No 23 tahun 1992 tentang kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Begitupun yang tertuang dalam setiap arah kebijakan pembangunan kesehatan yaitu untuk meningkatkan mutuh sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung  dengan pandangan paradigma sehat yang memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan dan rehabilitasi.

Menurut Guru Besar Bagian Administrasi Kebijakan Kesehatan FKM UI Does Sampoerna, tanpa adanya sumber daya manusia yang berkualitas, maka kemajuan yang telah dicapai oleh suatu Negara tidak bisa dipertahankan apalagi untuk dikembangkan. Sumber daya manusia yang berkualitas yaitu sumber daya manusia yang memiliki kesehatan dan kecerdasan yang tinggi.
Era globalisasi yang didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat termasuk remaja. Sejak lebih dari satu dekade ini, telah terjadi perubahan dalam pandangan dan perilaku seksual masyarakat khususnya dikalangan remaja Indonesia. Beberapa penelitian yang telah dilakukan dibeberapa kota menunjukan adanya perubahan itu, yang didukung oleh berbagai fasilitas, sehingga aktifitas seksual semakin mudah dilakukan, bahkan mudah berlanjut menjadi hubungan seksual. Agaknya hubungan seksual tidak lagi dianggap sesuatu yang sakral yang hanya patut dilakukan dalam ikatan perkawinan ( Wimpie Pangkahila, 1999 ).
Masalah kesehatan reproduksi remaja merupakan masalah yang perlu diperhatikan dalam pembangunan nasional di Indonesia. Masalah remaja terjadi karena mereka tidak dipersiapkan mengenai pengetahuan tentang aspek yang berhubungan dengan masalah peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. Masalah kesehatan remaja mencakup aspek fisik, biologis, mental dan sosial. Perubahan fisik yang pesat dan perubahan endokrin/hormon yang sangat dramatik pemicu masalah kesehatan remaja yang serius karena tumbuhnya dorongan motivasi seksual yang menjadikan remaja rawan terhadap masalah kesehatan reproduksi seperti hubungan seks pranikah, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), aborsi dan penyakit menular seksual ( PMS ) termasuk HIV/AIDS.
Masalah kesehatan reproduksi remaja di Indonesia kurang mendapat perhatian dari semua pihak, hal ini disebabkan karena banyak kalangan yang berpendapat bahwa masalah kesehatan reproduksi seperti juga masalah kesehatan lainnya, semata-mata menjadi urusan kalangan medis, sementara pemahaman terhadap kesehatan reproduksi (apalagi kesehatan reproduksi remaja) diakalangan medis sendiri juga masih minimal,  banyak kalangan yang beranggapan bahwa masalah kesehatan reproduksi hanyalah masalah kesehatan sebatas sekitar proses kehamilan dan melahirkan sehingga dianggap bukan masalah kaum remaja, banyak yang masih mentabuhkan untuk membahas masalah kesehatan reproduksi remaja karena membahas masalah tersebut berarti juga membahas masalah hubungan seks dan pendidikan seks.
Menurut Asrul Aswar masalah kesehatan reproduksi remaja termasuk perilaku seksual terjadi justru karena remaja kekurangan informasi yang benar dan bertanggung jawab sehingga mereka mengakses informasi yang keliru dari berbagai sumber seperti melalui film, buku, majalah, internet dan lain-lain. Perilaku seksual remaja yang demikian, besar resikonya terhadap penularan PMS termasuk HIV/AIDS, KTD serta aborsi atau pengguguran gandungan. Ketiga masalah ini merupakan data yang memperkuat hasil penelitian perilaku seksual yang telah dilakukan di beberapa kota di Indonesia (Wimpie Pangkahila, 1999).
     Berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2000, populasi remaja Indonesia mencapai 44 juta usia 10 – 24 tahun dari total penduduk. Remaja merupakan bagian fase kehidupan manusia dengan karakter khasnya yang penuh gejolak. Perkembangan emosi yang belum stabil dan bekal hidup yang masih perlu dipupuk menjadikan remaja lebih rentan mengalami gejolak sosial
 Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah.. Penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi.  Kejadian aborsi di Indonesia per tahun cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. “ Dan 20 persen di antaranya remaja,”( Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali) . Di Denpasar sendiri, menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, per November 2007, 441 wanita dari 4.041 orang dengan HIV/AIDS. Dari 441 wanita penderita HIV/AIDS ini terdiri dari pemakai narkoba suntik 33 orang, 120 pekerja seksual, 228 orang baik. Karena keadaan wanita penderita HIV/AIDS mengalami penurunan sistem kekebelan tubuh menyebabkan 20 kasus HIV/AIDS menyerang anak dan bayi yang dilahirkannya.
Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50 % diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90 % terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.
Data WHO, setiap tahun 15 juta remaja mengalamii kehamilan dimana 60 %-nya berupaya mengakhirinya. Tetapi ketika mengambil keputusan untuk mengakhiri kehamilan di dalam lingkungan dimana pengguguran masih dilarang atau sukar didapat, akan mendorong mereka melakukan unsafe abortion. Hal ini menyebabkan komplikasi akibat aborsi tidak aman berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi bahkan sepsis yang dapat menyebabkan kematian. Disisi lain, pengetahuan remaja tentang resiko melakukan hubungan seksual masih sangat rendah karena kurangnya informasi mengenai seksualitas dan reproduksi.
Survey demografi kesehatan Indonesia ( SDKI) tahun 1998 memperlihatkan bahwa 6,1 % wanita yang menikah di usia 20 – 24 tahun telah melakukan hubungan seksual pada saat mereka berusia 15 tahun ( BKKBN, 2003). Penelitian Sahabat Remaja tentang perilaku seksual di 4 Kota menunjukan 3,6 % remaja di Kota Medan, 8,5 % remaja di Kota Yogya, 3,2 % remaja di Kota Surabaya serta 31,1 %  remaja di Kota Kupang telah melakukan hubungan seksual secara bebas ( Kompas, 2003 ). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Synovate Research tentang perilaku seksual remaja di 4  Kota yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan dengan jumlah responden 450 orang dengan usia antara 15 – 24 tahun. Penelitian ini menghasilkan bahwa sekitar 50 % informasi tentang seks mereka dapat dari kawan, Film porno sebanyak 35 % dan untuk sekolah hanya 10 %, ironisnya hanya 5 % dari responden remaja ini memperoleh informasi tentang seks dari orang tuanya. Dan sebanyak 81 % remaja tersebut mengaku lebih nyaman berbicara seks dengan teman-temannya.
Hasil survey yang dilakukan PKBI NTT pada tahun 2006 terhadap 500 responden remaja SMA di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur ditemukan sebanyak 31 % responden mengaku telah berhubungan seks. Dan data klinis insiden IMS di Kota Kupang tercatat 318 orang terkena penyakit Gonorhoe dan Sifilis. Kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Propinsi NTT hingga Agustus 2007, berjumlah 558 kasus. Dari jumlah kasus tersebut, 24 % diantaranya adalah kaum remaja ( PKBI NTT, 11 Maret 2009 ).
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Lembata dalam tiga tahun ini meningkat yaitu tahun 2007 sebanyak 10 kasus, tahun 2008 sebanyak 13 kasus dan tahun 2009 sebanyak 15 kasus. Data dari Puskesmas Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata tentang PMS pada remaja setiap tahun meningkat yaitu tahun 2007 sebanyak 38 kasus, tahun 2008 sebanyak 89 kasus dan tahun 2009 sebanyak 103 kasus.
Data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lembata jumlah SLTA yang ada di Kecamatan Nubatukan sebanyak 7 buah. Dari ketujuh sekolah itu angka drop out karena alasan hamil yang tertinggi terdapat di SMK Kawula Karya Lewoleba  dengan datanya sebagai berikut : tahun 2007 sebanyak  27 siswa (10,42 % ) dari 259 siswa  diantaranya 6 siswa ( 22,2 % ) keluar karena hamil, tahun 2008 sebanyak 50 siswa (17,92 %) dari 279 siswa diantaranya 12 siswa (24%) ) keluar karena hamil, tahun 2009 sebanyak 59 siswa ( 17,94 % ) dari 312 siswa diantaranya 15 siswa ( 26,79 % ) keluar karena hamil.
Oleh karena itu, penelitian ini ditekankan pada siswa yang masih berstatus sebagai pelajar di ..................., sebagai objek penelitian dengan pertimbangan adanya indikasi terhadap masalah kesehatan reproduksi remaja.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah penelitian dapat disusun rumusan masalah penelitian sebagai berikut: “ Bagaimana gambaran perilaku kesehatan reproduksi remaja di .................?”.

C.    Tujuan Penelitian
      1.Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku kesehatan reproduksi di ...................
2. Tujuan Khusus
a.       Untuk mendapatkan gambaran pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di ...........
b.      Untuk mendapatkan gambaran motivasi tentang kesehatan reproduksi di ............
c.       Untuk mendapatkan gambaran tindakan tentang kesehatan reproduksi di .............
d.      Untuk mendapatkan gambaran informasi tentang kesehatan reproduksi di ............
D.    Manfaat penelitian
1.  Manfaat ilmiah
             Menambah bahan refrensi ilmiah pada pengetahuan dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan reproduksi remaja khususnya pada ..............
2.  Manfaat bagi sekolah
             Memberi informasi baru bagi siswa khususnya siswa pada ...............tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan reproduksi.
3.  Manfaat bagi pemerintah
 Sebagai sumber informasi bagi pemerintah sebagai penentu kebijakan dalam menangani  masalah kesehatan reproduksi remaja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar