Rabu, 14 November 2012

Bagaimana pengetahuan mengenai personal hygiene alat reproduksi pada remaja putri

KARYA TULIS ILMIAH  (KTI)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
      Perawatan kesehatan dan kebersihan adalah hal yang banyak dibicarakan dalam masyarakat. Biasanya hal ini diajarkan oleh orangtua sejak kita masih kecil. Tetapi  karena orangtua sering kali tidak merasa nyaman membicarakan masalah pendidikan seksual  biasanya masalah kesehatan dan kebersihan yang dibicarakan hanya menyangkut hal yang umum saja, sedangkan urusan kesehatan organ reproduksi jarang kita dapatkan dari mereka (Sarwono, 2006: 115). Menurut WHO dan beberapa badan dunia lainnya tahun 1998, menghimbau semua Negara Asia Tenggara agar memberikan komitmennya untuk memperhatikan dan melindungi kebutuhan remaja akan informasi, keterampilan, pelayanan dan lingkungan yang umum dan kesehatan reproduksi remaja. (Soetjiningsih, ).

            Di dunia, angka kejadian akibat infeksi alat reproduksi diperkirakan sekitar 2,3 juta pertahun 1,2 juta diantaranya ditemukan dinegara berkembang, sedangkan jumlah penderita baru sekitar 5 juta pertahun dan terdapat di negara berkembang sekitar 3 juta (Berman, 2009 : 327). Kesehatan reproduksi merupakan bagian paling penting dari program kesehatan, mengingat pengaruhnya terhadap setiap orang dan mencakup banyak aspek kehidupan, sejak dalam kandungan sampai usia lanjut.
1
     Di Indonesia pelayanan kesehatan reproduksi mencakup 4 komponen esensial yang mampu memberikan hasil yang efektif dan efisien. Adapun 4 komponen antara lain Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE) yaitu Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir,Keluarga Berencana, Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan  pencegahan atau penanggulangan penyakit menular seksual (PMS) temasuk HIV/AIDS. (Bobak, 2004 : 827) Beberapa penyakit ginekologi dan gangguan kesehatan reproduksi perempuan merupakan suatu masalah serius dalam masyarakat seperti kemandulan, keputihan, dan kanker rahim. Di negara maju insiden terjadinya infeksi 87 per 100.000  angka kematiannya kira – kira 27 per 100.000 (Andira, 2010:75). Data terbaru berdasarkan penelitian pada 13 laboratorium patologi anatomi di Indonesia menempatkan kanker serviks diurutan pertama dengan perevaluasi 18,62 % disusul kanker payudara 11,22 % dan kanker kulit menurunkan resiko kehamilan dan pengguguran yang tidak aman, menurunkan penularan IMS/HIV–AIDS, memberikan informasi kontrasepsi dan konseling untuk mengambil keputusan sendiri tentang kesehatan reproduksi. (Soetjiningsih, ).
     Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak – kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun. Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja. Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukan ke dalam kelompok remaja. Remaja adalah masa transisi antara masa kanak – kanak dan dewasa, dimana terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif. Untuk tercapainya tumbuh kembang yang biologik seorang remaja merupakan hasil interaksi antara faktor genetik dan lingkungan Biofisikopsikososial. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda - beda. (Soetjiningsih, ).
     Selama perkembangan menuju dewasa, tubuh berkembang secara terus menerus. Keseluruhan frekuensi perubahan terjadi dengan cepat sebelum lahir, selama masa bayi, dan saat pubertas. (Cristiana, 2004). Menurut WHO (1995) sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berusia 10 – 19 tahun. Sekitar 900 juta berada di Negara sedang berkembang. Data demografi di Amerika Serikat (1990) menunjukan jumlah remaja berumur 10 – 19 tahun. Sekitar 15 % populasi di Asia Pasifik dimana penduduk merupakan 60 % dari penduduk dunia, seperlimanya adalah remaja umur 10 – 19 tahun. Menurut Dinkes Jabar tahun 2008 kelompok remaja putri umur 10 – 19 tahun adalah 4. 037. 410 jiwa (Dinkes, 2008)
     Setelah melakukan survey pada tanggal 05 juli 2010, Di dapat dengan jumlah seluruh siswa .................  yaitu 424 diantaranya siswa remaja putra 217 dan jumlah remaja putri 207 yang terdiri dari 7 kelas.
     Menurut survey yang dilakukan dengan mewawancarai 20 siswi ..................... hanya 2 yang mengetahui tentang personal hygiene alat reproduksi dan sisanya (18) siswa sama sekali tidak mengetahui tentang personal hygiene alat reproduksi yang berarti di SMP Negeri 1 Cidadap masih kurangnya pengetahuan siswi tentang personal hygiene alat reproduksi.
Berdasarkan dari latar belakang masalah diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti “ Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Personal Hygiene Alat Reproduksi di S................

B.     Rumusan Masalah
     Dari latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana pengetahuan mengenai personal hygiene alat reproduksi  pada remaja putri ...............”.

C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang personal hygiene alat reproduksi di .........
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui apakah remaja putri di .............. tahu tentang definisi  personal hygiene.
b.      Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri di ..................... tentang manfaat personal hygiene alat reproduksi tahun 2010.
c.        Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri di ....................... tentang tujuan personal hygiene alat reproduksi tahun 2010.
d.      Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri tentang organ reproduksi wanita.
e.       Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri tentang perawatan kebersihan vagina.
f.       Untuk mengetahui dampak tidak melakukan personal personal hygiene yang baik pada remaja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar