Kamis, 11 Oktober 2012

KTI KEBIDANAN TENTANG ABORTUS


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan. Abortus buatan adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan. Abortus terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan indikasi medik (Wiknjosastro, 2005 : 302).
Sejak lama diketahui bahwa abortus spontan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan kejadian abortus. Kejadian abortus yang banyak terjadi adalah abortus provakatus yang dilakukan dengan sengaja akibat kehamilan yang tidak diinginkan. Kehamilan tidak diinginkan dalam jumlah besar terjadi pada kelompok remaja. Berdasarkan data WHO diketahui bahwa di seluruh dunia, setiap tahunnya diperkirakan ada sekitar 15 juta remaja yang mengalami kehamilan, sekitar 60% diantaranya tidak ingin melanjutkan kehamilan tersebut dan berupaya mengakhirinya (www.tempo.co.id).
Menurut badan kesehatan dunia (WHO), di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilannya melakukan aborsi. Setiap tahun, sekitar 500.000 ibu mengalami kematian yang disebabkan oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50% diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman. Yang lebih memprihatinkan lagi, sekitar 90% dan kematian tersebut terjadi di Negara berkembang termasuk Indonesia (www.tempo.co.id).
Departemen Kesehatan mencatat di kalangan remaja kita setiap tahunnya terjadi 700 ribu kasus aborsi, atau 30% dari keseluruhan kasus aborsi (sekitar 2 juta kasus). Tingkat kematian ibu saat melahirkan yang disebabkan aborsi tidak aman sekitar 11% dari 307 kematian ibu saat melahirkan. Kasus aborsi merupakan fenomena gunung es, ini disebabkan lebih banyak kasus yang tidak terdata (www.dwp.or.id).
Aborsi di kalangan remaja bisa terjadi karena rasa takut pada orang tua dan masyarakat sekelilingnya, serta karena peraturan sekolah. Di sisi lain ada sikap atau persepsi remaja tentang seksualitas, seiring dengan itu juga perubahan seksual di kalangan remaja, hal ini juga dapat dipandang sebagai perubahan pandangan remaja pada nilai-nilai sosial dan nilai moral. Untuk menyeimbangkan ketimpangan antara persepsi dan pengetahuan akan masalah-masalah seksual sangat perlu ada pendidikan seks, terutama melalui jalur formal sekolah. Dengan pengetahuan seks yang benar diharapkan dapat menurunkan angka aborsi pada remaja (www.kompas.com).
Berdasarkan data di ruang Melati Bapelkes RSD Jombang pada bulan Januari-Maret 2006 jumlah klien yang mengalami abortus sebanyak 56 pasien, dengan jumlah abortus incomplent sebanyak 38 klien (67,8%) dari jumlah kasus abortus dan jumlah abortus iminens sebanyak 18 klien (32,1%). Dari sejumlah kasus tersebut terdapat 3 klien (5,3%) berstatus belum menikah dan mengalami abortus.
Dari data tersebut di atas penulis tertarik untuk mengambil judul dalam karya tulis ilmiah yaitu “Asuhan Kebidanan pada Nn. “K” GIP00000 usia kehamilan 13 minggu dengan abortus iminens.
1.2  Batasan Masalah
Mengingat luasnya kasus abortus dan terbatasnya waktu dan pengetahuan, maka penulis membatasi lingkup karya tulis ilmiah ini dalam Asuhan Kebidanan Nn. “K” GIP00000 umur kehamilan 13 minggu dengan abortus iminens di Ruang Melati Bapelkes RSD Jombang”.

1.3  Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan pada latar Belakang tersebut, maka penulis dapat merumuskan masalah yaitu “Bagaimana asuhan kebidanan pada klien dengan Abortus Iminens ?”

1.4  Tujuan Penulisan
1.4.1    Tujuan Umum
Menerapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah ke dalam proses asuhan kebidanan nyata sesuai manajemen asuhan kebidanan Hellen Varney.
1.4.2    Tujuan Khusus
Dalam melakukan asuhan kebidanan pada klien dengan Abortus Iminens diharapakan penulis mampu :
1.      Melakukan pengkajian data
2.      Mengidentifikasi diagnosa masalah
3.      Mengidentifikasi masalah potensial
4.      Mengidentifikasi kebutuhan segera
5.      Menyusun rencana asuhan yang komprehensif
6.      Melaksanakan asuhan sesuai rencana
7.      Mengevaluasi pelaksanaan asuhan kebidanan

1.5  Manfaat Penulisan
1.5.1    Manfaat Teoritis
Untuk menambah pengetahuan dan sumber informasi baru tentang masalah abortus iminens.
1.5.2    Manfaat Praktis
1.      Bagi Penulis
Mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan teori yang telah diterima dan didapat dalam perkuliahan ke dalam kasus nyata dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada klien yang Abortus Iminens.
2.      Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan Tambahan sumber kepustakaan dan pengetahuan tentang Asuhan Kebidanan pada klien dengan Abortus Iminens.
3.      Bagi Lahan Praktek
Sebagai bahan kepustakaan dan acuan dalam meningkatkan asuhan kebidanan pada klien dengan Abortus Iminens.
4.      Bagi Klien
Mendapat pengetahuan dan informasi tentang abortus iminens dan penatalaksanaan  penanganan yang akan dilaksanakan dalam asuhan kebidanan pada klien dengan abortus iminens.
5.      Bagi Masyarakat
Mendapat pengetahuan dan informasi tentang abortus iminens dan masalah-masalah yang mungkin menyertai.
1.6  Metode Penulisan dan Tehnik Pengumpulan Data
1.6.1    Metode Penulisan
Karya tulis ini disusun oleh penulis setelah penulis melakukan penelitian secara deskriptif dalam bentuk studi kasus yang dibuat berdasarkan keadaan situasi yang nyata dengan tujuan pemecahan masalah
1.6.2    Tehnik Pengumpulan Data
Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
1.      Wawancara
Cara pengumpulan data dengan tanya jawab secara langsung kepada klien keluarga maupun tim kesehatan yang terkait untuk mendapatkan data subyektif.
2.      Observasi
Yaitu pengamatan langsung terhadap perubahan yang terjadi pada klien.
3.      Pemeriksaan fisik
Cara pengumpulan data dengan melakukan pemeriksaan fisik secara inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi untuk mendapatkan data obyektif.
4.      Pemeriksaan penunjang
Yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa seperti pemeriksaan laboratorium, USG, rontgen.
5.      Studi kepustakaan
Penulis mengumpulkan data dengan jalan mengambil literature dari buku-buku di perpustakaan dan makalah-makalah yang ada hubungannya dengan karya tulis ilmiah.
6.      Studi Dokumentasi
Cara pengumpulan data dengan melihat data yang sudah ada dalam status klien, catatan medik maupun hasil pemeriksaan penunjang, baik pemeriksaan laboratorium seperti Hb, HCG tes, albumin, dan reduksi urine dan juga pemeriksaan USG.

1.7  Waktu dan Tempat Penulisan
Waktu dan tempat pengambilan serta pelaksanaan asuhan kebidanan dilakukan pada tanggal 10 April 2006 di ruang Melati Bapelkes RSD Jombang.

1.8  Sistematika Penulisan
Karya tulis ini disusun secara sistematis menjadi lima BAB dengan susunan sebagai berikut :
BAB  I     :   PENDAHULUAN
Menggambarkan Latar Belakang, Rumusan Masalah, Batasan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Metode Penulisan dan Teknik Pengumpulan Data, Waktu dan Tempat Penulisan serta Sistematika Penulisan.
BAB  II   :   TINJAUAN PUSTAKA
Meliputi tentang Konsep Dasar Teori Kehamilan Fisiologis, Konsep Dasar Teori Abortus, Konsep Dasar Teori Kecemasan, Konsep Dasar Teori Asuhan Kebidanan Pada Klien dengan Abortus Iminens.
BAB  III  :   TINJAUAN KASUS
Terdiri dari Pengkajian, Identifikasi diagnosa masalah, Antisipasi masalah potensial, Identifikasi kebutuhan segera, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi.
BAB  IV  :   PEMBAHASAN
Berisi uraian tentang kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus secara nyata pada pasien dengan kasus abortus iminens.
BAB  V   :   PENUTUP
Terdiri dari kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Konsep Dasar Kehamilan
2.1.1      Definisi
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin (Saifuddin, 2002 : 89).
Kehamilan adalah proses bertemunya sel telur (ovum) dengan spermatozoa (sel mani) sampai terjadinya pembuahan, nidasi dan plasentasi (Bobak, 2005 : 74).
2.1.2      Proses Kehamilan
Fertilisasi berlangsung di ampula (sepertiga bagian luar) tuba uterina. Apabila sebuah sperma berhasil menembus membran yang mengelilingi ovum, baik sperma ataupun ovum akan berada di dalam membran dan tidak lagi dapat ditembus oleh sperma lain. Nukleus ovum menjadi pronukelus ovum, kepala sperma membesar dan menjadi pronukleus pria, sedangkan ekornya berdegresi. Nukleus-nukleus akan menyatu dan kromosom bergabung sehingga dicapai jumlah yang diploid (46). Dengan demikian konsepsi berlangsung dan terbentuklah zigot.
Pembelahan dimulai saat zigot berjalan di sepanjang tuba uterina menuju uterus, perjalanan ini membutuhkan waktu tiga sampai empat hari. Karena telur yang difertilisasi bertambah sedangkan ukurannya tidak bertambah, terbentuk sel kecil-kecil yang disebut blastomer, yang terbentuk pada setiap pembelahan. Morula terdiri dari 16 sel berupa satu bola sel padat yang dihasilkan dalam tiga hari. Morula masih dikelilingi oleh lapisan pelindung zona pelusida. Perkembangan selanjutnya terjadi sewaktu  morula mengapung bebas dalam uterus. Cairan masuk ke dalam zona pelusida dan menyusup ke dalam ruang interselular di antara blastomer. Selanjutnya, terbentuk ruangan di dalam massa sel karena ruang-ruang interselular menyatu dan terbentuklah struktur yang disebut blastosis. Pembentukan blastosis menandai diferensiasi utama pertama embrio. Massa padat sel bagian dalam berkembang menjadi embrio dan membran embrio yang disebut amnion. Lapisan sel luar yang mengelilingi rongga disebut trofoblas dan akan berkembang menjadi membran embrio lain yaitu karion bagian embrionik placenta.
Zona pelusida berdegresi dan trofoblas melekatkan diri pada  endometrium rahim, biasanya pada daerah fundus anterior atau posterior. Antara 7 sampai 10 hari setelah konsepsi, trofoblas menyekresikan enzim yang membantunya membenamkan diri ke dalam endometrium sampai seluruh bagian blastosis tertutup. Proses ini dikenal sebagai implantasi. Pembuluh darah endometrium pecah dan sebagian wanita akan mengalami perdarahan ringan akibat implantasi. Vili korion yang terbentuk seperti jari, terbentuk di luar trofoblas dan menyusup masuk ke dalam daerah yang mengandung darah pada endometrium. Vili ini adalah tonjolan yang mengandung banyak pembuluh darah dan mendapat oksigen dan gizi dari aliran darah ibu serta membuang karbondioksida dan produk sisa ke dalam darah ibu.
Setelah implantasi, endometrium disebut desidua. Bagian yang langsung berada di bawah blastosis, tempat vili korion membetuk pembuluh darah disebut desidua basalis. Bagian yang menutup blastosis adalah desidua kapsularis dan bagian yang melapisi sisa uterus ialah desidua vera (Bobak, 2005 : 77).
Pembentukan plasenta terbentuk selama minggu ke tiga setelah konsepsi dimana sel-sel trofoblas vili korion menyusup kedalam desidua basalis. Kemudian vili korion ini membentuk ruang-ruang yang memiliki 2 lapisan sel yaitu sinsisium luar dan sitotrofoblas dalam. Lapisan ketiga berkembang menjadi septum-septum. Yang menancap membagi desidua yang menonjol menjadi daerah yang terpisah disebut kotiledon. Pada setiap 15 – 20 kotiledon terdapat lubang vili korion dengan sistem pembuluh darah janin yang rumit. Setiap kotiledon mempunyai unit yang fungsional. Dan keseluruhan struktur inilah yang disebut placenta. Sirkulasi embrio plasenta itu terbentuk pada hari ke 17 saat jantung embrio mulai berdenyut (Bobak, 2005 : 84).
2.1.3      Gejala dan Tanda Kehamilan
1.      Gejala kehamilan tidak pasti
a.       Amenore (tidak mendapat haid)
Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir atau menentukan usia kehamilan dan taksiran partus.
b.      Nausea (enek) dengan atau tanpa vomitus (muntah)
Sering terjadi pagi hari pada bulan-bulan pertama kehamilan, disebut morning sickness.
c.       Mengidam
Menginginkan makanan atau minuman atau juga barang tertentu
d.      Konstipasi/obstipasi
Disebabkan penurunan peristaltik usus oleh hormon steorid.
e.       Sering kencing
Terjadi karena kandung kemih pada bulan-bulan pertama kehamilan tertekan uterus yang mulai membesar. Gejala ini akan berkurang perlahan lahan, lalu timbul lagi pada akhir kehamilan.
f.       Pingsan atau mudah lelah
Pingsan sering dijumpai bila berada di tempat ramai pada bulan pertama kehamilan lalu akan hilang setelah 18 minggu.
g.      Anoreksia (tidak ada nafsu makan)
2.      Tanda kehamilan tidak pasti
a.       Pigmentasi kulit
Terjadi kira-kira minggu ke-12 atau lebih, timbul di pipi, hidung dan dahi, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Terjadi karena pengaruh hormon placenta yang merangsang melanofor pada kulit.
b.      Leukore
Sekret serviks meningkat karena pengaruh peningkatan hormon progesteron.
c.       Epulis (hipertrofi papila gingiva)
Sering terjadi pada trimester pertama kehamilan.
d.      Perubahan payudara
Payudara menjadi tegang dan membesar karena pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli dan alveoli payudara.
e.       Pigmentasi areola mammae
Daerah areola menjadi lebih hitam karena deposit pigmen berlebihan terdapat kolustrum bila kehamilan labih dari 12 minggu.
f.       Pembesaran abdomen
Pembesaran abdomen jelas terlihat setelah kehamilan 14 minggu.
g.      Suhu basal meningkat antara 372-378 0C
h.      Perubahan organ-organ serviks dalam pelvik :
Tanda chadwick        :   vagina livid, terjadi kira-kira minggu ke-6
Tanda hegar              :   segmen bawah uterus lembek pada perabaan
Tanda picaseck          :   uterus membesar ke salah satu jurusan
Tanda braxton hicks  :   uterus berkontraksi bila dirangsang.
                                      Tanda ini khas untuk uterus pada masa kehamilan.
i.        Tes kehamilan
Yang banyak dipakai pemeriksaan Hormon Chorionic Gonadrotropin (HCG) dalam urine.
3.      Tanda pasti kehamilan
a.       Pada palpasi dirasakan bagian bayi dan balotement serta gerak janin.
b.      Pada auskultasi terdengar bunyi jantung janin (BJJ). Dengan stetoskop Laennec BJJ baru terdengar pada usia kehamilan 18 – 20 minggu. Dengan alat dopler BJJ terdengar pada usia kehamilan 12 minggu.
c.       Dengan ultrasonografi (USG) atau scanning dapat dilihat gambaran janin.
d.      Pada pemeriksaan sinar X tampak kerangka janin. Tidak dilakukan lagi sekarang karena dampak radiasi terhadap janin.
(Arif Mansjoer, 2001 : 253).
2.1.4      Perubahan-perubahan anastomik dan fisiologik pada wanita hamil.
1.      Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan prosgesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus disamping itu serabut-serabut kolagen yang ada pun menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin.
2.      Serviks uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen. Jika korpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka serviks lebih banyak mengandung jaringan ikat, hanya 10% jaringan otot. Akibat kadar estrogen meningkat dan dengan adanya hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak.  Kelenjar-kelenjar di servik akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak. Kadang-kadang wanita yang sedang hamil, mengeluh mengeluarkan cairan pervaginam lebih banyak, keadaan ini sampai batas tertentu masih merupakan keadaan fisiologis.
3.      Vagina dan vulva
Vagina dan vulva akibat hormon estrogen mengalami perubahan pula. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (lividae). Tanda ini disebut tanda chadwick. Warna porsio pun tampak lividae.
4.      Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai terbentuknya palsenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditatis berdiameter kira-kira 3 cm kemudian ia mengecil setelah plasenta terbentuk. Korpus luteum ini mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron. Lambat laun fungsi ini diambil alih oleh placenta.
5.      Mamma
Mamma akan membesar dan tegang akibat hormon somatomammotropin, estrogen dan progesteron akan tetapi belum mengeluarkan air susu. Pada kehamilan 12 minggu ke atas dari puting susu dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih disebut kolustrum. Kolustrum ini berasal dari kelenjar-kelenjar asinus yang mulai bersekresi. Sesudah partus kolustrum ini agak kental dan warnanya agak kuning. Meskipun kolustrum telah dapat dikeluarkan, pengeluaran air susu belum berjalan oleh karena prolaktin ini ditekan oleh PIH (Prolaktin Inhibiting Hormon).
Papila mamma akan membesar, lebih tegak dan tampak lebih hitam, seperti seluruh areola mamame karena hyperpigmentasi.
6.      Sirkulasi darah
Volume darah klien dalam kehamilan bertambah secara fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. Volume darah akan bertambah banyak kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32 minggu, diikuti dengan cardiac output yang meninggi sebanyak kira-kira 30%. Akibat hemodelusi tersebut yang mulai jelas pada kehamilan 16 minggu, klien yang mempunyai penyakit jantung dapat jatuh dalam keadaan dekompensasi cordis.
Terjadi peningkatan volume entrosit secara keseluruhan, tetapi penambahan volume plasma jauh lebih besar sehingga konsentrasi hemoglobin dalam darah menjadi lebih rendah. Hal ini tidak boleh dinamakan anemia fisiologik dalam kehamilan karena jumlah hemoglobin pada wanita hamil dalam keseluruhannya lebih besar daripada sewaktu sebelum hamil.
7.      Sistem Respirasi
Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang, mengeluh tentang rasa sesak dan pendek nafas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas karena usus-usus tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira-kira 20%, seorang wanita hamil selalu bernafas lebih dalam.
8.      Traktus digestivus
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea), mungkin ini akibat kadar hormon estrogen yang meningkat. Tidak jarang dijumpai pada bulan pertama kehamilan gejala muntah (emesis) biasanya terjadi di pagi hari dikenal sebagai morning sickness. Emesis, bila terlampau sering dan terlalu banyak dikeluarkan disebut hyperemesis gravidarum, keadaan ini patologik.
Tonus otot-otot traktus digestivus menurun sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga bekurang. Makanan akan lebih lama berada di dalam lambung dan apa yang telah dicerna lebih lama berada di dalam usus. Hal ini mungkin baik untuk resorbsi akan tetapi menimbulkan obstipasi.
9.      Traktus urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga timbul sering kencing, keadaan ini hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan bila kepala janin mulai turun ke bawah atas panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan kembali.
10.  Kulit
Pada kulit terdapat deposit dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu, pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh Melanophorse Stimulating Hormon (MSH) yang meningkat kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada dahi, pipi dan hidung dikenal sebagai kloasma gravidarum.
Di daerah leher sering terdapat hyperpigmentasi yang sama, juga di areola mammae. Line alba pada kehamilan menjadi hitam, dikenal sebagai linea grisea. Tidak jarak dijumpai kulit perut seolah-olah retak-retak, warnanya berubah agak hiperemik dan kebiru-biruan disebut striae lividae. Setelah partus, striae livide ini berubah warnanya menjadi putih dan disebut striae albikantes.
(Wiknjosastro, 2005 : 89).
2.1.5      Perubahan psikologis pada wanita hamil
Menurut Rubin terdapat 3 fase dalam pola perkembangan psikologis wanita hamil, yaitu :
1.      Pada fase ke-1
a.       Wanita menerima fakta biologis kehamilan
b.      Pada awal kehamilan pusat pikiran ibu berfokus pada dirinya sendiri
c.       Anak dipandang sebagai bagian dari seseorang.
d.      Kebanyakan wanita berpikir bahwa janinnya tidak nyata.
2.      Pada fase ke-2
a.       Merasa senang dengan kehamilannya dan anak begitu berharga dimata sang ibu
b.      Wanita memasuki periode tenang dan menjadi lebih mawas diri.
c.       Memusatkan perhatian pada anak yang dikandungnya.
d.      Bertanggung jawab.
3.      Pada fase ke-3
a.       Merasa sebagai ibu
b.      Berinteraksi dengan anak yang dikandungnya, misalnya mengajak bicara dan mengelus-elus perutnya.
c.       Mempersiapkan diri untuk melahirkan dan mengasuh anaknya.
(Bobak, 2005 : 130)
2.1.6      Fisiologi Pertumbuhan Janin
Pada 2 minggu pertama, hasil konsepsi masih merupakan perkembangan dari ovum yang dibuahi, dari minggu ke 3 sampai minggu ke 6 disebut mudigah (embrio), dan sesudah minggu ke 6 mulai disebut fetus. Perubahan-perubahan dan organogenesis terjadi pada berbagai periode kehamilan.
Tabel 2.1   Perubahan-perubahan dan organogenesis yang terjadi pada berbagai periode kehamilan.
Umur Kehamilan
Panjang Fetus
Pembentukan Organ
4 minggu
7,5-10 mm
Rudimental mata, telinga, dan hidung.
8 minggu
2,5  cm
Hidung, kuping, jari-jemari mulai dibentuk. Kepala menekuk ke dada.
12 minggu
9 cm
Daun kuping lebih jelas, Kelopak mata melekat, leher mulai berbentuk, alat kandungan luar terbentuk, namun belum berdiferensi.
16 minggu
16-18 cm
Genitalia eksterna terbentuk dan dapat dikenal, kulit tipis dan warna merah.
20 minggu
25 cm
Kulit lebih tebal, rambut mulai tumbuh di kepala, dan rambut halus (lanugo) tumbuh di kulit.
24 minggu
30-32 cm
Kedua Kelopak mata tumbuh alis dan bulu mata serta kulit keriput. Kepala besar. Bila lahir, dapat bernafas tetapi hanya bertahan hidup beberapa jam saja.
28 minggu
35 cm
Kulit warna merah ditutupi verniks kaseosa. Bila lahir, dapat bernafas, menangis pelan dan lemah. Bayi imatur.
32 minggu
40-43 cm
Kulit merah dan keriput. Bayi lahir, kelihatan seperti orang tua kecil (little old man).
36  minggu
46 cm
Muka berseri tidak keriput. Bayi prematur.
40 minggu
50-55 cm
Bayi cukup bulan, kulit licin, verniks kaseosa banyak, rambut kepala tumbuh baik, organ-organ baik. Pada pria, testis sudah berada dalam skrotum, sedangkan pada wanita, labia mayor berkembang baik. Tulang- tulang kepala menulang.
(Rustam, 2002 : 30)
2.1.7      Nasehat-nasehat untuk wanita hamil
1.      Nutrisi
Kekurangan makanan dapat menimbulkan anemia, abortus, partus prematurus, insersia, HPP, sedangkan kelebihan makan dapat menimbulkan pre eklampsi, bayi terlalu besar.
a.       Anjurkan makan secukupnya, cukup protein hewani dan nabati.
b.      Parameter gizi adalah kenaikan berat badan, setelah 20 minggu sebaiknya kenaikan berat badan adalah 0,5 kg per minggu.
c.       Bila kenaikan berat badan lebih dari normal kurangi karbohidrat, tetapi jangan mengurangi lemak, sayur dan buah-buahan.
d.      Bila berat badan turun atau tetap, anjurkan makan semua makan-makanan terutama yang mengandung protein dan besi.
e.       Bila kenaikan berat badan normal tetapi disertai oedem kaki anjurkan kurangi makan garam.
(Rachman, 2000 : 30)
Tabel 2.2   Kebutuhan makanan sehari-hari ibu tidak hamil, ibu hamil dan ibu menyusui

Kalori dan zat makanan
Tidak hamil
hamil
Menyusui
Kalori
Protein
Kalsium (Ca)
Zat besi (Fe)
Vitamin A
Vitamin D
Tiamin
Riboflavin
Niasin
Vitamin C
2000
55 g
0,5 g
12 g
5000 IU
400 IU
0,8 mg
1,2 mg
13 mg
60 mg
2300
65 g
1 g
17 g
6000 IU
600 IU
1 mg
1,3 mg
15 mg
90 mg
3000
80 g
1 g
17 g
7000 IU
800 IU
1,2 mg
1,5 mg
18 mg
90 mg
(Rustam, 2002 : 60)
Tabel 2.3   Kebutuhan makanan setiap hari
Jenis Makanan
Kebutuhan
Kandungan
zat-zat gizi
Makanan pokok, yaitu beras, kentang, makroni dan mi.
2 piring nasi @200-250 gram, 80 gram roti dan 100 gram kentang.
Karbohidrat, protein, vitamin B1 dan serat
Protein hewani, yaitu daging/ikan/ telur, ayam.
90 gram daging/ ikan, 1 butir telur.
Protein, lemak, vitamin (B, B3 dan B12), zat besi, fosfor, dan seng.
Protein nabati, yaitu kacang-kacangan, tempe, tahu.
60 gram kacang-kacangan/100 gram, tempe/100 tahu
Protein, lemak, vitamin B, zat besi, fosfor, seng dan kalsium.
Sayur-sayuran
3 mangkuk
Karbohidrat, provitamin A, vitamin B dan C, asam folat, zat besi, kalsium, serat dan air.
Buah-buahan
2 porsi @ 100-150 gram
Karbohidrat, provitamin A, vitamin C, asam folat, serat dan air.
Mentega/margarin/minyak
2 sd mentega/ margarin, 3 sendok makan minyak
Lemak, vitamin A, D dan E
Susu/yogurt
1 gelas
Karbohidrat, lemak, protein, vitamin A, B2, B12, D, magnesium, kalsium, fosfor dan air.
(Dini Kasdu, 2004 : 34)

2.      Hubungan seksual
Hamil bukanlah merupakan halangan untuk melakukan hubungan seksual disarankan untuk dihentikan bila :
a.       Terdapat tanda infeksi dengan pengeluaran cairan disertai rasa nyeri atau panas.
b.      Terjadi perdarahan saat hubungan seksual.
c.       Terdapat pengeluaran cairan yang mendadak.
d.      Hentikan hubungan seksual pada mereka yang sering mengalami keguguran kandungan, persalinan sebelum waktunya, mengalami kematian kandungan, sekitar 2 minggu menjelang persalinan.
(Manuaba, 2002 : 139)
3.      Pakaian Hamil
Baju hendaknya yang longgar dan mudah dipakai, sepatu atau alas kaki tinggi sebaiknya jangan dipakai karena tempat titik berat wanita hamil berubah sehingga mudah tergelincir atau jatuh, BH atau kutang yang lebih besar dan cukup menunjang (Wiknjosastro, 2005 : 160).
4.      Perawatan Gigi
Pada triwulan pertama wanita hamil mengalami enek dan muntah (morning sickness) keadaan ini menyebabkan perawatan gigi tidak diperhatikan dengan baik  sehingga timbul karies, gingivitis, dsb. Hal itu dapat mengakibatkan komplikasi seperti nefritis, septikemia, sepsis puerperalis oleh karena infeksi di rongga mulut. Maka dari itu bila memungkinkan tiap wanita hamil harus memeriksakan giginya secara teratur  sewaktu hamil. (Wiknjosastro, 2005 : 162)

5.      Merokok
Adalah kenyataan bahwa wanita-wanita yang terlalu banyak merokok melahirkan anak yang lebih kecil, atau mudah mengalami abortus dan partus prematurus. Maka dari itu sebaiknya wanita hamil dilarang merokok.
6.      Pekerjaan
Wanita hamil boleh bekerja, tetapi jangan terlampau berat. Lakukan istirahat sebanyak mungkin (Wiknjosastro, 2005 : 162).
7.      Jadwal istirahat dan tidur
Jadwal istirahat dan tidur perlu diperhatikan dengan baik karena istirahat dan tidur teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk kepentingan perkembangan dan pertumbuhan janin (Manuaba, 2002 : 140).
8.      Olah raga saat hamil
Pelaksanaan olah raga saat hamil, merupakan masalah kontroversi dengan pengertian perlu pertimbangan. Olah raga mutlak dikurangi bila dijumpai :
a.       Sering mengalami keguguran
b.      Persalinan belum cukup bulan
c.       Pada mereka yang mempunyai sejarah persalinan sulit
(Manuaba, 2002 : 139)


2.2    Konsep Dasar Abortus
2.2.1      Definisi Abortus
Abortus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan dimana janin belum mampu hidup di luar rahim (belum variabel) dengan kriteria usia kehamilan < 20 minggu atau berat janin < 500 gram (Chrisdiono, 2004 : 26).
Abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin mampu bertahan hidup (Williams, 2006 : 951).
Abortus iminens adalah terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan (Saifuddin, 2002 : 147).
Abortus iminens adalah proses awal dari suatu keguguran yang ditandai dengan perdarahan pervaginam sementara ostium uteri eksternum masih tertutup dan janin masih baik intrauterin (Chrisdiono, 2004 : 26).
2.2.2      Etiologi Abortus
Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor sebagai berikut :
1.      Faktor pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan kecacatan bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan. Gangguan pertumbuhan hasil konsepsi dapat terjadi karena :
a.       Faktor kromosom
Gangguan terjadi sejak semula pertemuan kromosom, termasuk kromosom seks
b.      Faktor lingkungan endometrium
Endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi hasil konsepsi.
Gizi ibu kurang karena anemia atau terlalu pendek jarak kehamilan.
c.       Pengaruh luar
Infeksi endometrium, endometrium  tidak siap menerima hasil konsepsi. Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.
2.      Kelainan pada plasenta
a.       Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga plasenta tidak dapat berfungsi
b.      Gangguan pertumbuhan darah plasenta, diantaranya pada diabetes militus
c.       Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah plasenta sehingga menimbulkan keguguran
3.      Penyakit ibu
Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan melalui plasenta :
a.       Penyakit infeksi seperti pnemonia, tifus abdominalis, malaria, sipilis
b.      Anemia ibu, melalui gangguan nutrisi dan peredaran O2 menuju sirkulasi retroplasenter
c.       Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit diabetes militus.
4.      Kelainan yang terdapat dalam rahim
Rahim yang merupakan tempat tumbuh kembangnya janin, dijumpai keadaan abnormal dalam bentuk mioma uteri, retrofleksia uteri, bekas operasi serviks.
(Manuaba, 2002 : 215)
5.      Faktor pola kebiasaan dan lingkungan
a.       Tembakau
Merokok dilaporkan dapat menyebabkan peningkatan resiko abortus.
b.      Alkohol
Abortus spontan dan anomali janin dapat terjadi akibat sering mengkonsumsi alkohol selama 8 minggu pertama kehamilan.
c.       Kafein
Kadar paraxantin (suatu metabolik kafein) dalam darah klien menyebabkan peningkatan 2 kali lipat resiko abortus spontan.
d.      Radiasi
Dalam dosis memadai radiasi diketahui dapat menyebabkan abortus, namun dosis pasti pada manusia tidak diketahui.
e.       Toksin lingkungan
Arsen, timbal, formaldehida dan etilen oksida dapat menyebabkan abortus.
f.       Trauma fisik
Trauma fisik tertentu dapat menyebabkan terjadi abortus
6.      Faktor ayah
Adenovirus atau virus herpes simpleks pada hampir 40% didapat dari semen yang diperoleh dari pria steril. Virus terdeteksi dalam bentuk laten pada 60% sel dan virus ini sama dijumpai pada abortus.
(Williams, 2005 : 951)
2.2.3      Patofisiologi Abortus
Pada awal abortus terjadilah perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan di sekitarnya. Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya.
(Wiknjosastro, 2005 : 303)
2.2.4      Diagnosis Abortus Iminens
Diagnosis abortus iminens ditegakkan dengan :
1.      Terjadinya perdarahan pada wanita hamil kurang dari 20 minggu
2.      Kadang disertai rasa mules
3.      Uterus membesar sebagaimana usia kehamilan
4.      Serviks tidak membuka
5.      Tes kehamilan hasilnya Å/ positif
(Chrisdiono, 2004 : 27).
2.2.5      Komplikasi Abortus Iminens
1.      Abortus insipiens
Setiap pasien harus diperiksa karena selalu ada kemungkinan bahwa serviks sudah membuka dan abortus tidak dapat lagi dihindari.
2.      Anemia atau hipovolemia
Apabila perdarahan menetap dan perdarahan cukup besar dapat terjadi anemia dan hipovolemia
(Williams, 2006 : 962).
2.2.6      Penanganan Abortus Iminens
1.      Istirahat baring agar aliran darah uterus bertambah dan rangsang mekanik berkurang.
2.      Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak panas dan tiap empat jam bila pasien panas.
3.      Tes kehamilan dapat dilakukan, bila negatif mungkin janin sudah mati. Pemeriksaan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
4.      Berikan obat penenang, biasanya  fenobarbital 3 x 30 mg, berikan preparat hematinik misalnya sulfa ferosus 600-1000 mg.
5.      Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.
6.      Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat.
(Arif Masnjoer, 2001 : 263).
Bila perdarahan berhenti lakukan antenatal terjadwal dan penilaian ulang, bila terjadi perdarahan lagi. Bila perdarahan terus berlangsung nilai kondisi janin (uji kehamilan/USG), lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola) (Saifuddin, 2002 : 149).

2.3    Konsep Dasar Teori Nyeri
2.3.1    Definisi
Terdapat banyak definisi yang diberikan oleh para ahli mengenai definisi nyeri, antara lain :
1.      Nyeri adalah pengalaman sensorik yang dicetuskan oleh rangsangan yang merupakan ancaman untuk menghancurkan jaringan, disebut sebagai sesuatu yang menyakitkan (Mountcastle, 1980 : 391 yang dikutip oleh Rosemary Mander, 2003 : 371).
2.      Maerskey, 1980 yang dikutip oleh Rosemary Mander, 2003 : 37.
Mengatakan definisi yang lebih lengkap dalam upaya agar nyeri “organik” dan “psikogenik” tercakup didalamnya, yang selanjutnya diadopsi oleh International Association of The Study of Pain (IASP). Bahwa nyeri adalah suatu perasaan atau pengalaman sensons dan emosional yang menyenangkan dan dihubungkan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial terjadi kerusakan nyeri.
3.      Nyeri adalah suatu keadaan distress berat yang dikaitkan dengan peristiwa yang mengancam keutuhan seseorang (Cassell, 1982 yang dikutip oleh Rosemary Mander, 2003 : 38).
4.      Nyeri non fisik dapat berasal dari proses patologik atau psikiatrik dan sebagian besar karena dikaitkan dengan pengabaian. Oleh karena itu perhatian lebih lanjut pada kemungkinan bahwa nyeri telah dianggap sebagai “psikogenik” (Meizack and Wall, 1991 : 32 yang dikutip oleh Resomary Mander, 2003 : 38).
2.3.2    Etiologi
1.      Trauma
a.       Mekanik, misalnya : benturan, gesekan
Nyeri timbul akibat ujung-ujung saraf bebas mengalami kerusakan karena terjadinya trauma tersebut yang mungkin terjepit, tersayat, putus.
b.      Thermis, misalnya panas api, air
Nyeri timbul karena ujung saraf tersebut nyeri mengalami rangsangan akibat panas.
c.       Chemis, misalnya sentuhan atau tersentuh asam atau basa kuat
Nyeri timbul karena rangsangan atau kerusakan.
d.      Elektrik yaitu karena pengaruh aliran listrik yang kuat
Mengenai reseptor nyeri sehingga timbul kekejangan otot atau kerusakan akibat terbakar oleh listrik tersebut.

2.      Neoplasma
a.       Jinak, nyeri terjadi karena adanya tekanan pada ujung saraf reseptor nyeri.
b.      Ganas, nyeri terjadi karena kerusakan jaringan yang mengandung reseptor nyeri dan karena terikat atau jepitan.
3.      Peradangan
Misalnya : abses, nyeri terjadi karena kerusakan ujung saraf reseptor akibat adanya peradangan dan bisa karena reseptor nyeri terjepit karena pembengkakan.
4.      Gangguan sirkulasi
Terjadi penyempitan pembuluh atau penyumbatan aliran darah ke suatu daerah atau organ yang mengakibatkan terganggunya atau terhalang nya darah yang membawa zat makanan dan O2 ke daerah tersebut. Misalnya miocardial infark.
5.      Trauma psikologis
Setelah mengalami kejadian yang mengerikan atau dahsyat misalnya korban “pemerkosaan” mengeluh nyeri pada kemaluannya.
2.3.3    Jenis Nyeri
1.      Nyeri viseral
Jika suatu segmen persyarafan melayani lebih dari satu daerah.
2.      Nyeri somatic
Nyeri yang terjadi karena rangsangan pada bagian hipersyaraf oleh saraf tepi.
2.3.4    Sifat Nyeri
1.      Nyeri alih
Jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satu daerah.
2.      Nyeri radiasi
Nyeri yang menyebar didalam sistem/jalur anatomi yang sama, contoh: infark miokard akut.
3.      Nyeri proyeksi
Nyeri yang disebabkan oleh rangsangan saraf sensorik akibat cedera atau peradangan saraf.
4.      Nyeri kontinyu
Nyeri akibat rangsangan pada peritoneum periental akan dirasakan terus menerus karena berlangsung terus, misal : pada reaksi radang.
5.      Nyeri kolik
Nyeri viseral akibat spasme otot polos organ berongga disebabkan oleh hambatan dalam organ.
6.      Nyeri iskemik
Nyeri yang sangat hebat, menetap dan tidak menyudut. Tanda adanya jaringan yang terancam nekrosis.
7.      Nyeri pindah
Nyeri yang berubah sesuai dengan perkembangan patologis.
2.3.5    Gejala klinik
1.      Respon simpatis adrenal
a.       Peningkatan denyut nadi, tekanan darah dan pernafasan
b.      Keringat berlebihan
c.       Muntah
d.      Pucat
e.       Dilatasi pupil
2.      Respon muscular
a.       Peningkatan ketegangan otot
b.      Menggeliat
c.       Gelisah
3.      Respon emosional
a.       Iritable
b.      Merintih
c.       Menangis
d.      Ekspresi wajah tampak tegang
2.3.6    Mekanisme terjadinya tampak tegang
Stimulasi nyeri
¯
Reseptor nyeri
¯
Sumsum syaraf central melalui syaraf asenden
¯
Hypothalamus cortex serebral
¯
Menginterpretasikan arti nyeri
¯
Sensasi nyeri
2.3.7    Faktor-faktor yang mempengaruhi rasa nyeri
1.      Faktor psikologik
a.       Sikap klien
b.      Keadaan mental klien
c.       Kebiasaan klien
d.      Budaya
2.      Faktor fisik
a.       Keadaan umum pasien
b.      Umur pasien
2.3.8    Tingkat atau skala nyeri berdasarkan ekspresi wajah
 







Bila skala nyeri > 5 ® harus diberikan terapi.
Nyeri tingkat 10 penderita sangat takut capek dan sangat nyeri.
2.3.9    Penatalaksanaan Rasa tidak nyaman (Nyeri)
1.      Penatalaksanaan Farmakologi
a.       Sedatif
Apabila wanita merasa nyeri, sedatif tanpa kandungan analgesik dapat meningkatkan rasa khawatir dan menyebabkan ibu menjadi hiperaktif. Efek yang tidak diinginkan meliputi depresi vasomotor dan depresi pernapasan baik pada ibu maupun pada bayi baru lahir.Agens sedatif seperti barbiturat jarang di gunakan karena faktor yang tidak menguntungkan

b.      Analgesia dan Anestesia
Anestesia adalah suatu proses pelenyapan presepsi nyeri dengan menginterupsi impuls saraf menuju ke otak.Hilangnya sensasi ini dapat sebagian atau seluruhnya, kadang – kadang di sertai kehilangan kesadaran.
Analgesia paling baik digunakan untuk menjelaskan kondisi, dimana sensasi nyeri hilang  atau ambang persepsi nyeri seseorang  meningkat. Penggunaan analgesia tidak menyebabkan kesadaran hilang.
2.      Penatalaksanaan Non Farmakologis
a.       Teknik relaksasi
Memfokuskan dan relaksasi umpan balik
Membawa barang-barang yang di sukai untuk di gunakan sebagai fokus perhatiannya. Mekanisme umpan balik yang umum dilakukan ialah mengucapkan kata “ rileks “ setiap merasakan nyeri.
b.      Teknik pernafasan
1)      Bernapas untuk membersihkan
Pada teknik pernapasan rileks, udara masuk melalui hidung keluar melalui mulut.
2)      Bernapas dengan dengan frekuensi rendah (kira-kira 6-8 kali per menit)
Jangan bernapas kurang dari separuh frekuensi pernapasan normal (jumlah pernapasan/menit dibagi dua)
2.4    Konsep Dasar Kecemasan
2.4.1  Definisi
Kecemasan adalah keadaan di manna seseorang mengalami perasaan gelisah atau Cemas dan aktivitas sistem saran autonomy dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas, tidak spesifik (Lynda Juall Carpenito, 1999 : 4).
Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki obyek yang spesifik. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya (Stuart dan Sundeen, 2002 : 175).
2.4.2  Etiologi Kecemasan
Menurut Stuart dan Sundeen, 2002 etiologi kecemasan berasal dari sumber interntal atau ekternal yang dikelompokkan dalam dua kategori.
1.      Ancaman terhadap integritas fisik.
Yaitu ketidakmampuan fisiologis atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
2.      Ancaman terhadap self sistem/sistem diri
Sesuatu yang dapat membahayakan identitas, harga diri dan fungsi sosial.
2.4.3  Macam-macam Kecemasan
Freud, 2002 mengemukakan adanya tiga macam kecemasan yaitu :
1.      Kecemasan realitas (Reality Ansiety)
Kecemasan atau ketakutan yang nyata, atau takut akan bahaya di dunia luar.
2.      Kecemasan neurotik (Neurotic Ansiety)
Adalah kecemasan kalau-kalau instink tidak dapat dikendalikan seseorang merasa khawatir akan dikuasai oleh keinginan yang tak terkendalikan untuk melakukan suatu perbuatan atau untuk mengandung suatu pikiran yang akan merugikan dirinya sendiri, misalnya :
a.       Kecemasan yang mengambang, cemas terhadap sesuatu yang akan terjadi pesimis.
b.      Kecemasan fobik, takut terhadap obyek yang tidak dapat dihindari.
c.       Kondisi panik, takut terjadi disfungsi dan disorganisasi dari kepribadian disertai perubahan-perubahan secara fisiologis.
3.      Kecemasan Moral (moral Ansiety)
Sebagai suatu perasaan bersalah atau malu dalam ego, ditimbulkan oleh suatu pengamatan mengenai bahaya dan hati nurani, seseorang cenderung merasa berdosa apabila dia melakukan atau bahkan berpikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.
2.4.4  Tingkat Kecemasan
Menurut Wartonah, 2003 tingkat kecemasan dibagi menjadi :
1.      Cemas ringan
Cemas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkatan ini persepsi melebar dan individu akan berhati-hati dan waspada. Individu terdorong untuk belajar yang akan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
2.      Cemas sedang
Pada tahap ini persepsi terhadap masalah menurun, individu lebih memfokuskan pada hal-hal penting itu dan mengesampingkan hal lain.
3.      Cemas berat
Pada cemas berat, lahan persepsi sangat sempit, seseorang cenderung hanya memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal lain, seseorang tidak mampu berpikir berat lagi dan membutuhkan lebih banyak pengarahan/tuntunan.
4.      Panik
Pada tahap ini lahan persepsi telah terganggu sehingga individu tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun telah diberi pengarahan.
2.4.5  Respons-respons terhadap kecemasan :
1.      Respon fisiologis
a.       Kardiovaskuler
1)      Palpitasi
2)      Jantung berdebar
3)      Tekanan darah meninggi
4)      Rasa mau pingsan
5)      Pingsan
6)      Tekanan darah menurun
7)      Nadi menurun
b.      Pernafasan
1)      Nafas cepat
2)      Nafas pendek
3)      Tekanan pada dada
4)      Nafas dangkal
5)      Pembengkakan pada tenggorok
6)      Sensasi tercekik
7)      Terengah-engah
c.       Neuromuskular
1)      Refleks meningkat
2)      Reaksi kejutan
3)      Insomnia
4)      Tremor
5)      Gelisah
6)      Wajah tegang
7)      Kelemahan umum
8)      Kaki goyang
9)      Gerakan yang janggal
d.      Gastrointestinal
1)      Kehilangan nafsu makan
2)      Menolak makan
3)      Rasa tidak nyaman pada abdomen
4)      Mual
5)      Rasa terbatas pada jantung
6)      Diare
e.       Traktus urinarius
1)      Tidak dapat menahan kencing
2)      Sering berkemih
f.       Kulit
1)      Wajah kemerahan
2)      Berkeringat setempat (telapak tangan)
3)      Gatal
4)      Rasa panas dan dingin pada kulit
5)      Wajah pucat
6)      Berkeringat seluruh tubuh
2.      Respon perilaku
a.       Gelisah
b.      Ketegangan fisik
c.       Tremor
d.      Gugup
e.       Bicara cepat
f.       Cenderung mendapat cedera
g.      Menarik dari hubungan interpersonal
h.      Menghalangi
i.        Menarik diri dari masalah
j.        Menghindar
k.      Hiperventilasi
3.      Respon kognitif
a.       Perhatian terganggu
b.      Konsentrasi buruk
c.       Pelupa
d.      Salah dalam memberikan penilaian
e.       Hambatan berpikir
f.       Bidang persepsi menurun
g.      Kreativitas menurun
h.      Bingung
i.        Sangat waspada
j.        Kesadaran diri meningkat
k.      Takut kehilangan kontrol
l.        Kehilangan obyektifitas
m.    Takut cedera atau kematian
4.      Respon afektif
a.       Mudah terganggu
b.      Tidak sabar
c.       Gelisah
d.      Tegang
e.       Nervus
f.       Ketakutan
g.      Alarm
h.      Teror
i.        Gugup
j.        Gelisah
(Stuart dan Sundeen, 2002 : 178)
2.5    Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Abortus Iminens
Asuhan kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan rangkaian atau tahapan yang logis untuk mengambil suatu keputusan yang berfokus pada klien (Varney, 2003).
Asuhan kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan yang dimulai dengan pengumpulan dasar, perumusan masalah atau diagnosa, antisipasi masalah potensial, identifikasi kebutuhan segera, pengembangan rencana, implementasi dan evaluasi, ketujuh langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam situasi (Varney, 2003).
2.5.1     Pengkajian
Merupakan langkah awal dan dasar dalam asuhan kebidanan secara keseluruhan. Pada tahap ini semua data awal informasi pasien yang dklientuhkan dikumpulkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan data tersebut diklasifikasikan sebagai data subyektif dan data obyektif.
1.      Data Subyektif
Data subyektif adalah data yang didapat dari hasil wawancara (anamnesa) langsung kepada klien dan keluarga atau tim kesehatan lain.
Adapun data-data pasien dengan abortus iminens meliputi :
a.       Biodata
Biodata berisi tentang identitas klien serta suaminya yang meliputi nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, status perkawinan, yaitu kawin ke berapa, lama kawin, dan alamat.
b.      Keluhan utama
Yaitu keluhan yang dialami dan dirasakan klien yang menyebabkan gangguan pada dirinya. Pada klien dengan abortus iminens mengalami pengeluaran darah sedikit-sedikit (bercak) dan sedikit nyeri perut (mules) atau tidak sama sekali
c.       Riwayat kesehatan sekarang.
Ditanyakan apakah saat ini klien menderita suatu penyakit atau tidak, seperti penyakit menular misalnya hepatitis, TBC, penyakit menurun misalnya : kencing manis, asma, penyakit menahun misalnya jantung dan hipertensi.
d.      Riwayat kesehatan yang lalu
Ditanyakan apakah klien pernah menderita penyakit yang dapat mempengaruhi kehamilan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti penyakit menular hepatitis dan TBC, penyakit menurun asma dan kencing manis, penyakit menahun jantung dan hipertensi. Bila iya, kapan dan apakah sudah mendapat pengobatan, bagaimana hasilnya sudah sembuh atau belum.
e.       Riwayat kesehatan keluarga
Ditanyakan apakah dari keluarga klien ada yang menderita penyakit menular seperti hepatitis dan TBC, penyakit menurun seperti asma dan kencing manis, penyakit menahun seperti jantung dan hipertensi, adakah riwayat keturunan kembar.
f.       Riwayat kebidanan
1)      Riwayat menstruasi
Ditanyakan menarche umur berapa, haid teratur apa tidak, siklus haid, lama haid, jumlah darah haid yang keluar setiap hari, mengalami dismenorea atau tidak, mengalami keputihan atau tidak, bila iya, waktunya kapan, seberapa banyak jumlahnya, bagaimana bau dan warnanya, gatal atau tidak.
2)      Riwayat kehamilan sekarang
Ditanyakan hamil anak keberapa, amenorea berapa bulan, HPTT dan HPL nya tanggal berapa, usia kehamilan berapa minggu, periksa kehamilan atau ANC berapa kali, dimana, keluhan apa yang dirasakan, obat apa yang didapatkan. Mendapat imunisasi TT berapa kali, kapan dan dimana, merasakan pergerakan janin sejak usia kehamilan berapa minggu, mendapat penyuluhan atau nasihat atau apa saja.
3)      Riwayat kehamilan persalinan nifas yang lalu
Tanyakan perkawinan yang ke berapa, anak ke berapa, umur kehamilan, jenis persalinan, tempat persalinan, penolong, penyulit, Berat badan lahir, panjang badan  lahir, jenis kelamin, usia anak sekarang, nifasnya normal atau tidak.
4)      Riwayat KB
Ditanyakan metode KB yang pernah digunakan klien sebelumnya, berapa lama pemakaiannya, apakah ada keluhan, alasan berhenti memakai KB. Rencana metode KB yang akan digunakan mendatang.
g.      Pola Kebiasaan Sehari-hari
1)      Nutrisi
Hal yang perlu ditanyakan sebelum dan saat hamil adalah makan berapa kali sehari, porsinya berapa piring, nafsu makannya bagaimana, menunya apa saja, minum berapa gelas sehari, jenisnya apa saja.
2)      Pola Eliminasi
Hal yang ditanyakan sebelum dan saat hamil adalah BAB berapa kali, konsistensinya bagimana, warna dan baunya bagaimana. BAK berapa kali sehari, warnanya bagaimana, baunya bagaimana.
3)      Pola Aktivitas
Hal yang ditanyakan sebelum dan saat hamil adalah kegiatan atau aktifitas  apa saja yang dilakukan klien sehari-hari.
4)      Pola Istirahat
Hal yang ditanyakan sebelum dan saat hamil adalah klien tidur malam dan siang selama berapa jam, apakah ada gangguan tidur.
5)      Pola Personal Hygiene
Hal yang ditanyakan sebelum dan saat hamil adalah klien membersihkan diri berapa kali sehari, seperti : berapa kali mandi, gosok gigi, ganti baju dan pakaian dalam, dalam sehari. Keramas dalam satu minggu.
6)      Pola Seksual
Hal yang ditanyakan sebelum dan saat hamil adalah berapa kali klien berhubungan seksual dalam seminggu, apakah ada  keluhan saat melakukan hubungan seksual.
h.      Keadaan psikologis
Bagaimana psikis klien saat ini, bagaimana hubungan klien dengan suami, keluarga dan tetangganya, apakah kehamilan ini diharapkan atau tidak. Apakah klien atau suami menginginkan jenis kelamin bayinya laki-laki atau perempuan.
i.        Latar Belakang
Ditanyakan apakah ada kebiasaan klien untuk minum jamu-jamuan, kebiasaan merokok, minum minuman yang mengandung alkohol, adakah pantangan makanan bagi klien, adakah adat yang mengikat yang dapat menjadi kendala dalam kehamilan.
2.      Data Obyektif
Data obyektif adalah data yang diperoleh melalui pemeriksaan fisik secara langsung yang meliputi keadaan umum, tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik secara inspeksi, palpasi auskultasi dan perkusi serta pemeriksaan penunjang bila diperlukan.
a.       Pemeriksaan fisik umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi :
Keadaan umum    :   Baik, cukup lemah 
Kesadaran            :   Composmentis, apatis
Tinggi badan        :   Dilakukan pengukuran Tinggi Badan sewaktu ibu pertama kali datang, terutama pada ibu bertubuh pendek (<145)
Berat badan         :   Dilakukan penimbangan Berat Badan ketika pertama kali klien datang, apakah BB turun/tetap/naik.
Pemeriksaan tanda-tanda vital
Tensi                    :   100/80-<140/90 mmHg
Nadi                     :   80-100 x/mnt
Suhu                     :   365 oC-375 oC
Pernafasan           :   16-24 x/mnt
b.      Pemeriksaan fisik
1)      Inspeksi
Yaitu proses observasi atau periksa pandang dengan menggunakan mata untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik.
Kepala                      :   Bentuk kepala, warna rambut, rontok atau tidak, panjang atau pendek, kebersihan kulit kepala dan rambut.
Muka                        :   Ada cloasma atau tidak, oedem atau tidak, pucat atau tidak.
Mata                         :   Simetris atau tidak, konjungtiva merah muda atau pucat, sklera putih atau kekuningan, ada oedem palpebra atau tidak.
Hidung                     :   Simetris atau tidak, ada polip atau tidak, ada sekret atau tidak, ada pernafasan cuping hidung atau tidak.
Telinga                     :   Simetris atau tidak, bersih atau kotor, ada serumen atau tidak
Mulut                       :   Simetris atau tidak, bibir lembab atau kering, ada stomatitis atau tidak, ada caries atau tidak, ada gigi palsu atau tidak.
Leher                        :   Ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugularis atau tidak.
Dada                        :   Simetris atau tidak, ada pembesaran payudara atau tidak, puting susu menonjol atau tidak, bagaimana kebersihannya, ada hiperpigmentasi areola dan puting mammae atau tidak, ada retraksi intercosta atau tidak.
Abdomen                 :   Pembesaran perut sesuai usia kehamilan atau tidak, ada linea nigra atau tidak, ada striae gravidarum atau tidak, ada bekas operasi atau tidak.
Genetalia                  :   Bersih atau tidak, ada kondiloma akuminata dan matalata atau tidak, ada oedem atau tidak, ada varices atau tidak, ada pengeluaran pervaginam atau tidak.
Anus                        :   Ada hemoroid atau tidak, bersih atau tidak.
Ekstremitas atas       :   Simetris atau tidak, oedem atau tidak, pergerakan normal atau ada gangguan, terpasang infus atau tidak, bila iya, apa jenisnya, berapa tetes/mnt, di tangan sebelah mana.
Ekstremitas bawah   :   Simetris atau tidak, oedem atau tidak, ada varices atau tidak, pergerakan normal atau ada gangguan.
2)      Palpasi
Palpasi yaitu proses pemeriksaan dengan meraba, memegang menggunakan tangan untuk mendeteksi tanda-tanda fisik yang berhubungan dengan status fisik.
Kepala                      :   Ada benjolan abnormal atau tidak
Leher                        :   Ada pembesaran kelenjar thyroid dan vena jugularis atau tidak
Payudara                  :   Ada masa abnormal atau tidak, ada pengeluaran ASI atau tidak pada payudara kanan dan kiri.
Abdomen                 :   Pada pemeriksaan palpasi abdomen melalui Leopold I didapatkan tinggi fundus uteri (TFU) sebagai berikut : 
Tabel 2.4  Pemeriksaan palpasi abdomen Leopold I
Akhir bulan
Besar uterus
TFU
1
Lebih besar dari biasa
Belum teraba (palpasi)
2
Telur bebek
Di belakang symphisis
3
Telur angsa
1-2 jari di atas symphisis
4
Kepala bayi
Pertengahan symphisis-pusat
5
Kepala dewasa
2-3 jari di bawah pusat
(Rustam, 2002 : 52)
3)      Auskultasi
Dada                        :   Ada wheezing dan ronchi atau tidak
Abdomen                 :   Pada usia kehamilan 13-14 minggu DJJ belum dapat terdengar dengan menggunakan funandoskop, tetapi sudah dapat diketahui melalui alat ultrasonografi (USG).

4)      Perkusi
Ekstremitas bawah   :   Refleks patela nya bagaimana positif atau negatif.
c.       Pemeriksaan Dalam
Pada pemeriksaan vagina toucher didapatkan ada perdarahan, serviks tidak berdilatasi (tertutup), uterus sesuai dengan masa gestasi dan lunak.
d.      Pemeriksaan Penunjang
1)      Pemeriksaan laboratorium, yaitu pemerikasan kadar hemoglobin, kadar Hb normal ibu hamil > 11 gr% pada ibu dengan anemia gravis mempunyai resiko abortus.
2)      Uji HCG, mungkin menunjukkan janin masih hidup bila hasilnya positif.
3)      Pemeriksaan USG untuk memastikan apakah janin masih hidup atau sudah mati.
2.5.2     Identifikasi Diagnosa dan Kebutuhan
Merupakan pengembangan mengenai masalah dari interpretasi dasar dalam identifikasi yang spesifik mengenai masalah atau diagnosa. Diagnosa adalah perumusan masalah dan keputusan yang akan ditegakkan bidan.
Di bawah ini identifikasi diagnosa dan masalah yang muncul pada klien dengan abortus iminens :
Diagnosa      :   G..........P...........umur kehamilan < 20 minggu dengan abortus iminems.
DS                :   Adanya komunikasi verbal bahwa klien mengalami amenorhea atau tidak haid £ 20 minggu, mengalami perdarahan bercak hingga sedang, tanpa atau disertai adanya nyeri perut (kram pada perut bagian bawah).
DO               :   Keadaan Umum cukup
Kesadaran composmentis
TTV dalam batas normal atau bisa tidak normal
Inspeksi       :   Abdomen ada atau tidak ada pembesaran perut
                        Ada pembesaran payudara
                        Genetalia terdapat pengeluaran darah sedikit/bercak sampai sedang
Palpasi         :   Abdomen belum atau sudah teraba balotement, TFU teraba 1-2 jari di atas symphisis.
Pemeriksaan dalam   :   Tes HCG positif
                                      Hasil USG janin masih hidup

Masalah        :   Nyeri
DS                :   Adanya komunikasi verbal klien mengungkapkan merasa nyeri pada daerah perut bagian bawah .
DO               :   Keadaan umum cukup
Kesadaran composmentis
TTV dalan batas normal atau cenderung meningkat atau turun
Ada ekspresi wajah yang menunjukan nyeri seperti menyeringai atau ekspresi wajah tampak tegang
Klien merintih, menangis

Masalah        :   Cemas
DS                :   Adanya komunikasi verbal klien mengungkapkan perasan khawatir terhadap kehamilannya, klien banyak bertanya tentang kehamilannya.
DO               :   Keadaan Umum cukup
Kesadaran composmentis
TTV dalam batas normal atau cenderung meningkat atau turun
Inspeksi muka tampak tegang, gelisah
Klien banyak bertanya tentang kehamilannya
Telapak tangan berkeringat

2.5.3     Antisipasi Masalah Potensial
Masalah potensial adalah masalah yang mungkin terjadi berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang saat ini hanya merupakan antisipasi dan pencegahan bila mungkin benar-benar terjadi.
Beberapa masalah potensial yang dapat terjadi pada kasus abortus iminens adalah :
1.        Potensial terjadi abortus insipiens sampai dengan syok hypovolemik
DS     :   Klien mengatakan perutnya terasa nyeri dan perdarahan tidak berhenti
DO    :   Perdarahan tidak berhenti, adanya dilatasi serviks belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi.
Ada tanda-tanda syok awal yaitu pasien dalam  keadaan sadar, tampak ketakutan nadi cepat 110 x/mnt, pernafasan cepat > 30 x/mnt, kulit basah tekanan darah turun sistolik < 90 mmHg.
2.        Potensial terjadi anemia
DS     :   -
DO    :   Muka pucat.
Bibir pucat dan kering
Konjungtiva anemis
Hb < 11 gr % 
3.        Potensial terjadi infeksi
DS     :   -
DO    :   Adanya tanda-tanda infeksi (suhu > 375 0C), pengeluaran sekret berbau pervaginam.
2.5.4     Identifikasi Kebutuhan Segera
Penanganan awal yang dapat dilakukan
1.      Kolaborasi dengan tim medis (DSOG)
2.      Pemberian cairan intra vena-larutan isotonia 1 lt/20 mnt
3.      Pemberian transfusi darah jika Hb £ 9 gr%
4.      Pemberian obat-obatan hormonal dan anti spasmodika
5.      Tirah baring
2.5.5     Intervensi
Diagnosa      :   G................P..............umur kehamilan £ 20 minggu dengan abortus iminens
Tujuan          :   Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 3 x 24 jam diharapkan kehamilan dapat dilanjutkan atau dipertahankan, sehingga tidak abortus insipiens.
Kriteria hasil    :     Keadaan umum cukup atau baik
Kesadaran composmentis
TTV dalam batas normal
Perdarahan tidak bertambah dan cenderung berhenti
Nyeri berkurang atau tidak nyeri
Tidak ada dilatasi serviks

Intervensi
1.      Lakukan pendekatan pada pasien dan keluarga.
Rasional     :   Dengan pendekatan dan komunikasi yang baik dapat membuat klien dan keluarga lebih kooperatif terhadap asuhan kebidanan.
2.      Jelaskan tentang hasil pemeriksaan dan kondisi pasien saat ini dengan menggunakan komunikasi terapeutik.
Rasional     :   Dengan menjelaskan tentang hasil pemeriksaan dan kondisi pasien saat ini dengan menggunakan komunikasi terapeutik diharapkan pasien akan mengerti tentang keadaan kesehatannya.
3.      Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang penanganan abortus iminens dan resiko yang mungkin terjadi apabila tidak dipatuhi
Rasional     :   Dengan pemahaman tentang penanganan dan resiko yang mungkin terjadi pada abortus iminens diharapkan pasien dan keluarga akan lebih kooperatif dalam pelaksanaan asuhan kebidanan dan meningkatkan keberhasilan terhadap pasien
4.      Observasi tanda-tanda vital  tiap 4 jam
Rasional     :   Untuk mendeteksi adanya komplikasi,sehingga dapat mengantisipasi masalah potensial sejak dini.
5.      Observasi Fluksus pervaginam dan adanya His
Rasional     :   Untuk mendeteksi dini adanya komplikasi abortus insipiens
6.      Anjurkan klien untuk istirahat baring (tirah baring) selama + 48 jam
Rasional     :   Dengan tirah baring aliran darah ke uterus dapat bertambah dan dapat mencegah/mengurangi rangsang mekanik.
7.      Sarankan pada klien untuk tidak melakukan hubungan seksual selama + 2 minggu
Rasional     :   Hubungan seksual dapat menimbulkan kontraksi uterus karena rangsang mekanik dan sperma suami mengandung hormon prostaglandin yang dapat menimbulkan kontraksi uterus
8.       Lakukan kolaborasi dengan tim medis (DSOG)
Rasional     :   Terapi yang sesuai dapat memperbaiki prognosa
9.      Anjurkan klien untuk makan dengan gizi seimbang dan diet tinggi protein
Rasional     :   Masukan protein yang rendah atau tidak adekuat selama kehamilan khususnya pada trimester pertama membuat janin IUGR atau gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, difisiensi salah satu zat gizi atau defisiensi sedang semua nutrien merupakan kausa abortus.
10.  Tekankan pentingnya masukan vitamin dan zat besi setiap hari
Rasional     :   Remaja hamil cenderung mengalami masalah malnutrisi dan anemia yang merupakan salah satu penyebab dari abortus
11.  Lakukan perawatan vulva hygiene dan ajarkan klien untuk menjaga kebersihan vulva
Rasional     :   Untuk mencegah terjadinya infeksi
12.  Lakukan perawatan personal hygiene (seka)
Rasional     :   Karena pasien harus bedrest selama ± 48 jam

Masalah        :   Nyeri
Tujuan          :   Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama  2 x 24 menit diharapkan klien dapat beradaptasi dengan keadaan dirinya

Kriteria hasil    :     Keadaan umum cukup
Kesadaran composmentis
TTV dalam batas normal
Nyeri berkurang atau tidak nyeri
Ekspresi wajah tidak menyeringai
Klien tidak lagi merintih dan tidak menangis (dapat beradaptasi dengan keadaannya)
Intervensi:
1.      Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga
Rasional     :   Dengan pendekatan pada klien dan keluarga dapat membuat klien dan keluarga lebih kooperatif terhadap asuhan kebidanan yang diberikan oleh petugas kesehatan
2.      Kaji tingkat nyeri klien
Rasional     :   Dengan mengkaji tingkat nyeri akan dapat menentukan penatalaksaan yanng lebih lanjut.
3.      Observasi tanda tanda vital
Rasional     :   Untuk mendeteksi adanya komplikasi
4.      Anjurkan dan ajarkan teknik relaksasi pada klien
Rasional     :   Dengan teknik relaksai dapat mengalihkan rasa nyeri dan mengurangi rasa nyeri
5.      Lakukan kolaborasi dengan tim medis
Rasional     :   Terapi yang  tepat dan sesuai  dapat memparbaiki prognosa

Masalah        :   Cemas      
Tujuan          :   Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1 x 30 menit diharapkan pasien dapat mengerti terhadap keadaan kehamilannya, tidak merasa khawatir, dapat beradaptasi dengan keadaannya dan mengerti/memahami penjelasan yang diberikan oleh petugas kesehatan.
Kriteria hasil    :     Keadaan umum cukup
Kesadaran composmentis
TTV dalam batas normal
Muka pasien tidak pucat, tampak tenang atau bisa istirahat

Intervensi :
1.      Ciptakan sikap dan suasana kekeluargaan
Rasional     :   Komunikasi yang baik akan sangat membantu terbinanya hubungan yang baik antara pasien dan petugas. Terciptanya rasa saling percaya sehingga pasien akan lebih kooperatif terhadap asuhan kebidanan yang diberikan.
2.      Dampingi dan dengarkan semua keluhan pasien
Rasional     :   Komunikasi dan empati yang tulus merupakan kunci pelayanan yang efektif.
3.      Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional     :   Pengkajian tingkat kecemasan yang benar dapat menentukan intervensi selanjutnya
4.      Evaluasi tanda-tanda vital
Rasional     :   Untuk mendeteksi dini adanya komplikasi.
5.      Berikan suport mental atau dukungan moral
Rasional     :   Keadaan emosinya jiwa pasien dapat mempengaruhi kondisi fisik pasien dan kehamilannya.
6.      Anjurkan klien untuk mendekatkan diri dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
Rasional     :   Pendekatan spiritual (religi) memberikan sikap lebih sabar dan kooperatif terhadap kehamilannya.

2.5.6     Implementasi
Implementasi harus dilaksanakan sesuai dengan intervensi (perencanaan) dan harus dilaksanakan secara continue dan berkesinambungan untuk mencapai tujuan. Pada pelaksanaan implementasi dapat dilaksanakan secara mandiri, maupun kolaborasi dengan tim medis lainnya.
2.5.7     Evaluasi
Merupakan langkah terakhir dalam asuhan kebidanan, dalam evaluasi bertujuan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan tindakan asuhan kebidanan, dari evaluasi dapat ditentukan apakah tindakan asuhan kebidanan perlu dilanjutkan atau perlu direvisi kembali untuk menciptakan asuhan yang lebih baik guna mencapai tujuan.
Evaluasi dalam asuhan kebidanan ditulis dalam bentuk catatan perkembangan yang meliputi SOAP yaitu :
S (Subyektif)     :   Adalah data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung
O (Obyektif)      :   Adalah data yang diperoleh dari hasil observasi dan pemeriksaan
A (Assesment)   :   Adalah pernyataan yang terjadi atas data subyektif dan obyektif
P (Planning)       :   Adalah perencanaan yang ditentukan sesuai dengan masalah 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar