Jumat, 23 November 2012

KTI BAB 2 KONSEP HIPERTENSI ADE POLTEKKES MALANG


2.3 Konsep Hipertensi

2.3.1 Pengertian
Tekanan darah tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri.Istilah “tekanan darah” berarti tekanan pada pembuluh nadi dari peredaran darah sistemik di dalam tubuh manusia.Tekanan darah di bedakan antara tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik.
Hipertensi dapat di definisikan sebagai tekanan darah persisten di mana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg, pada populasi manula hipertensi di defenisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.(Brunner & Suddarth vol 2 : 896)
2.3.2 Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu :
1. Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik, terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetic, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intra seluler, dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko, seperti abesitas, alcohol, meroko serta polisitemia
2. Hipertensi sekunder atau hipertensi renal, terdapat sekitar 5% kasus penyebab spesifiknya diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi kaskular renal, hiperaldosteronisme primer dan sindrom custing feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain-lain. (Arief Mansjoer, 2001)
Menurut Dr. Yekti Susilo dan Ari Wulandari (2011) dalam Ispendi Ilham (2012) yang menyebabkan terjadinya hipertensi secara umum. Salah satu saja mengenai tubuh kita maka dengan mudah kita akan menderita hipertensi, yaitu :
a. Toksin
Toksin adalah zat-zat sisa pembuangan yang seharusnya dibuang karena bersifat racun. Dalam keadaan biasa, hati kita akanmengeluarkan sisa-sisa pembuangan melalui saluran usus dan kulit. Sementara ginjal mengeluarkan sisa-sisa pembuangan melalui saluran kencing atau kantong kencing.Penyakit yang paling biasa diderita akibat penumpukan toksin dalam tubuh adalh filek, flu, dan bronchitis. Penumpukan toksin pada bagian yang berlainan pada tubuh akan menyebabkan penyakit-penyakit yang berbeda-beda, termasuk hipertensi. Hal tesebut menyebabkan pembesaran jantung dan selanjutnya mengakibatkan penyakit jantung. Sementara itu, tekanan yang dilakukan terhadap saluran darah akan mengakibatkan tekanan darah tinggi.
b. Faktor genetik
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga tersebut mempunyai risiko menderita hipertensi. Individu dengan orang tua hipertensi mempunyai risiko dua kalilebih besar untuk menderita hipertensi dari pada individu yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.Ada baiknya kita mulai sekarang kita memeriksa riwayat kesehatan keluarga sehingga kita dapat melakukan antisipasi dan pencegahan.
c. Umur
Kepekaan terhadap hipertensi akan meningkat seiring dengan betambahnya umur seseorang. Individu yang berumur di atas 60 athu, 50-60% mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya.
d. Jenis kelamin
Setiap jenis kelamin memiliki struktur organ dan hormon yang berbeda.Demikian juga pada perempuan dan laki-laki.Berkaitan dengan hipertensi, laki-laki mempunyai risiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal.Laki-laki juga mempunyai risiko yang lebih besar terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskiluer.Sedangkan pada perempuan, biasanya lebih rentan terhadap hipertensi ketika mereka sudah berumur di atas 50 tahun.Sangatlah penting bagi kita untuk menjaga kesehatan sejak dini.Terutama mereka yang memiliki sejarah keluarga terkena penyakit.
e. Etnis
Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang kulit hitam dari pada yang berkulit putih. Belum diketahui secara pasti penyebabnya, tetapi pada orang kuli hitam ditemukan kadar rennin yang lbih rendah dan sensitivitas terhadap vasopressin yang lebih besar.
f. Stress
Stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatetik. Stres merupakan respon tubuh yang sifatnya non- spesifik terhadap setiap tuntunan beban atasnya.Terdapat beberapa jenis penyakit yang berhubungan dengan stres yang dialami seseorang, diantaranya hipertensi atau peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Stres yang dialami seseorang akan membangkitkan saraf simpatetis yang akan memicu kerja jantung dan menyebabkan peningkatan tekanan darah. Oleh karena itu, bagi mereka yang sudah memiliki riwayat sejarah kesehatan penderita hipertensi, disarankan untuk berlatih mengendalikan stres dalam hidupnya.
g. Kegemukan (obesitas)
Kegemukan (obesitas) juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit berat, salah satunya hipertensi.Penelitian epidemiologi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan dengan tekanan darah baik pada pasien hipertensi maupun normotensi.Yang sangat mempengaruhi tekanan darah adalah kegemukkan pada tubuh bagian atas dengan peningkatan jumlah lemak pada bagian perut atau kegemukan terpusat (obesitas sentral).
h. Nutrisi
Sodium adalah penyebab penting terjadinya hipertensi primer. Asupan garam tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan menigkatkan tekanan darah. Asupan garam tinggi dapat menimbulkan perubahan tekanan darah yang dapat terdeteksi yaitu lebih dari 14 gram per hari atau jika dikonversi ke dalam takaran sendok makan adalah lebih dari 2 sendok makan.Bukan berarti kita makan garam 2 sendok makan setiap hari tetapi garam tersebut terdapat dalm makanan-makanan asin atau gurih yang kita makan setiap hari.
i. Merokok
Merokok merupakan faktor risiko yang potensial untuk ditiadakan dalm upaya melawan arus peningkatan hipertensi khususnya dan penyakit kardiovaskuler secara umum di Indonesia.
j. Narkoba
Mengkonsumsi narkoba jelas tidak sehat.Karena narkoba tidak ada sedikitpun kebaikannya.Penyakit kecanduan narkoba kelihatannya sepele tetapi sangat mematikan.Efek buruk yang ditimbulkannya sangatlah besar.Itulah sebabnya mendeteksi keberadaan hipertensi sejak dini sangat diperlukan.Tentu saja juga harus diimbangi dengan pola hidup sehat.
k. Alkohol
Penggunaan alkohol secara berlebihan juga akan memicu tekanan darah seseorang. Menghentikan kebiasaan mengkonsumsi alkohol sangatlah baik, tidak hanya bagi hipertensi kita tetapi juga untuk kesehatan kita secara keseluruhan.
l. Kafein
Kandungan kafein selain tidak baik pada tekanan darah dalam jangka panjang, pada orang-orang tertentu juga menimbulkan juga menimbulkan efek yang tidak seperti tidak bisa tidur, jantung berdebar-debar, sesak nafas, dan lain-lain.
m. Kurang Olahraga
Dengan adanya kesibukan yang luar biasa, manusia pun merasa tidak punya waktu lagi untuk berolahraga.Akibatnya, kita menjadi kurang gerak dan kurang olahraga.Kondisi inilah yang memicu kolesterol tinggi dan juga adanya tekanan darah yang terus menguat sehingga memunculkan hipertensi.
n. Kolesterol Tinggi
Kandungan lemak yang berlebihan dalam darah dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat.

2.3.3 Tanda dan gejala
Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala,meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak).Gejala yangdimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dankelelahan yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi maupun padaseseorang dengan tekanan darah yang normal. (Zukhair Alii, 2008)
Menurut Zukhair Alii (2008) Hipertensi diduga dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebihserius dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Sering kali hipertensi disebutsebagaisilent killer karena dua hal yaitu:
a. Hipertensi sulit disadari seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejalakhusus, gejala ringan seperti pusing, gelisah, mimisan dan sakit kepalabiasanya jarang berhubungan langsung dengan hipertensi, hipertensi dapatdiketahui dengan mengukur secara teratur.
b. Hipertensi apabila tidak ditangani dengan baik, akan mempunyai risiko besar untuk meninggal karena komplikasi kardiovaskular seperti strike, serangan jantung, gagal jantung dan gagal ginjal.
Jika timbul hipertensinya berat atau menahun dan tidak terobati, bisa timbulgejala berikut:
1. Sakit kepala
2. Kelelahan
3. Jantung berdebar-debar
4. Mual
5. Muntah
6. Sesak nafas
7. Gelisah
8. Pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakanpada otak, mata, jantung dan ginjal.
9. Telinga berdenging
10. Sering buang air kecil terutama di malam hari.
Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak.Keadaan ini disebutensefalopati hipertensif,yang memerlukan penanganan segera. (Trisha Macnair,2007 dalam Zukhair Alii, 2008).

2.3.4 Penatalaksaan
Dalam Zukhair Alii (2008) menjelaskan bagi penderita tekanan darah tinggi penting mengenal hipertensi dengan membuat gaya hidup positif. Jika anda baru saja menemukan tekanan darah anda tinggi atau tidak normal, tidak perlu khawatir ada 7 langkah untuk mengatasinya antara lain:
a. Mengatasi Risiko
Tanyakan pada diri sendiri pertanyaan berikut: apakah anda memiliki sejarah keluarga penderita hipertensi? Apakah anda memiliki berat badan berlebihan?Apakah anda makan makanan berkadar garam tinggi?Apakah anda cukup olahraga atau apakah anda merokok?Jika jawaban anda ya pada salah satu pertanyaan diatas anda berisiko memiliki tekanan darah tinggi.
b. Mengontrol pola makan
Apabila anda ingin terhindar dari risiko hipertensi jauhi makanan berlemak dan mengandung garam.
c. Tingkat konsumsi potassium (K) dan magnesium (mg)
Pola makan yang rendah potassium dan magnesium menjadi salah satu faktor pemicu tekanan darah tinggi, buah-buahan dan sayur segar adalah sumber terbaik bagi kedua nutrisi tersebut.
d. Makan makanan jenis padi-padian
Dalam sebuah penelitian yang dimuat dalam American Journal Clinical Nutrition ditemukan pria yang makan sedikitnya satu porsi perhari sereal dari jenis padi-padian kecil kemungkinan terkena penyakit hingga 20%.
e. Tingkat aktifitas
Orang dengan gaya hidup yang tidak aktif akan lebih rentan terhadap tekanandarah tinggi. Melakukan olahraga secara teratur tidak hanya menjaga bentuk tubuh dan berat badan, tetapi juga dapat menurunkan tekanan darah.Jika andamenyandang tekanan darah tinggi, latihan aerobic sedang selama 30 menit sehariselama beberapa hari setiap minggu dapat menurunkan tekanan darah. Jenislatihan yang dapat mengontrol tekanan darah adalah : berjalan kaki, bersepeda,berenang, aerobic. (Trisna Macnair, 2007).
Tidak diragukan meningkatkan aktifitas dapat menurunkan risiko tekanan darahtinggi, anda tidak perlu berolahraga seperti seorang atlet hanya 30 menit sampai45 menit 5 hari dalam seminggu cukup untuk menurunkan hipertensi.
f. Sertakan bantuan dari kelompok pendukung
Sertakan keluarga dari teman menjadi kelompok pendukungn pada pola hidupsehat dukungan dan partisipasi orang lain membuatnya lebih mudah dan lebihasyik dalam menjalankan dietnya. Bagi setiap orang dukungan keluarga berhasildalam membuat perubahan gaya hidup untuk mencegah tekanan darah tinggi.
g. Berhenti merokok
Jika anda tidak merokok itu baik bagi anda, jika anda merokok berhenti sekarang juga. Walaupun merokok tidak ada kaitanya dengan timbulnya hipertensi.Merokok dapat menimbulkan risiko komplikasi lainnya seperti penyakit jantungdan stroke.
h. Latihan relaksasi atau meditasi
i. Relaksasi berguna untuk mengurangi stress atau ketegangan jiwa, relaksasidilaksanakan dengan mengencangkan dan mengendorkan otot tubuh sambilmembayangkan sesuatu yang damai, indah dan menyenangkan dilakukan denganmendengarkan musik atau bernyanyi. (www.google.com, 2008)

















KTI BAB 2 KONSEP PENGETAHUAN


2.1  Konsep Pengetahuan

2.1.1        Pengertian Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (1997:143) pengetahuan merupakan hasil dari tahu danini terjadi setelah orang tersebut melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar  pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
2.1.2        Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo dalam bukunya Ilmu Kesehatan Masyarakat (1997) pengetahuan yang dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
2.1.2.1  Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall), terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendiskusikan, menyatakan dan sebagainya.
2.1.2.2  Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi, harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan-makanan yang bergizi.
2.1.2.3  Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisireal (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya menggunakan rumus statistic dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) di dalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
2.1.2.4  Analisis(Analysis)
Analisa merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasitersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.Kemampuan analisis ini dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
2.1.2.5  Sintesis(Syntesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan ataumenghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada, misalnya: dapat menyusun, merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
2.1.2.6  Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemajuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.Penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya: dapat membandingkan anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi.
2.1.3        Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
2.1.3.1  Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang dalam berperilaku akan pola hidup, terutama dalam motivasi untuk siap berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Jadi dapat dikatakan bahwa pendidikan itu menuntun manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan, keselamatan, dan kebahagiaan. (Notoadmojo, 1997)

2.1.3.2  Sosial Ekonomi
Penghasilan adalah besarnya pendapatan yang dimiliki keluarga pada jumlah total dari pendapatan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Penghasilan atau pendapatan keluarga sebagai cakupan pembayaran kesehatan keluarga. (Notoadmojo, 1997)
2.1.3.3  Usia
Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja, makin tua umur seseorang maka makin konstruktif dalam menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi. (Elizabet, B.H, 1995 dalam Hetik Tri, 2006)
2.1.3.4  Lingkungan
Semakin banyak informasi yang diterima seseorang baik melalui media massa atau elektronika atau wawancara dengan narasumber, maka semakin tinggi tingkat pengetahuan. (Notoadmojo, 1997)

LP Manajemen Asuhan Kebidanan KB Suntik DMPA Di Puskesmas Bululawang


LAPORAN PENDAHULUAN
Manajemen Asuhan Kebidanan KB Suntik DMPA
Di Puskesmas Bululawang

BAB I
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Teori Suntik KB DEPO PROGESTIN
1. Definisi
• Suntik KB Depo Progestin adalah Depo + Medroxyprogesteron Asetat yang diberikan setiap 3 bulan dengan dosis 150 mg (Hartanto, 2003 : 163)
• Suntik KB Depo Progestin adalah Demo Medroxyprogesteron Asetat (DMPA) mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan tiap 3 bulan dengan cara disuntik Intramuscular (Sarwono, 2008; Mk-40)

2. Mekanisme Kerja
a. Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi ovulasi
b. Mengentalkan lendir serviks sehingga sulit ditembus spermatozoa
c. Perubahan peristaltik Tuba fallopi menghambat konsepsi
d. Mengubah suasana endometrium sehingga tidak sempurna untuk Implantasi hasil konsepsi
(Manuaba, 2007 ; 444)

3. Efektifitas
DMPA sangat efektif, dengan angka kegagalan 0,3 kehamilan per 100 perempuan per tahun
Asal penyuntikan di lakukan tetatur sesuai jadwal
(Anna Clasier, 2006:100-101)

4. Waktu Pemberian KB Suntik
a. Pasca Persalinan
• Segera ketika masih di rumah sakit (3 hari dari awal masuk rumah sakit)
• Jadwal suntikan selanjutnya
b. Pasca Abortus
• segera setelah perawatan
• jadwal waktu diperhitungkan
c. Interval
• Hari ke- 5 menstruasi
• Jadwal waktu diperhitungkan



d. Jadwal waktu suntikan ulang diperhitungkan dengan pedoman
• Depo Provera Interval 12 minggu
• Norigest Interval 8 minggu
• Cyclofem suntikan KB
(Manuaba, 2007 ; 445)

5. Keuntungan Suntik KB
a. Sangat efektif
b. Pencegahan kehamilan jangka panjang
c. Tidak mengandung esterogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah
d. Tidak mempengaruhi ASI
e. Sedikit efek samping
f. Dapat digunakan untuk usia > 35 tahun sampai premenopause
g. Membantu mencegah kanker
h. Menurunkan kejadian tumor jinak payudara
i. Mencegah beberapa penyakit radang panggul
j. Menurunkan krisis anemia bulan sabit (scle cell)
(Sarwono, 2008 ; Mk- 41)

6. Kerugian Suntik KB
1) Sering ditemukan ganggaun haid, seperti :
siklus haid yang memendek dan memanjang
perdarahan yang banyak dan sedikit
perdarahan tidak teratur / perdarahan bercak
tidak haid sama sekali
2) klien sangat tergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan
3) tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikut
4) permasalahan berat badan
5) tidak menjamin perlindungan terhadap penularan IMS
6) terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian pemakaian
7) terlambatnya kembali kesuburan bukan kerena terjadinya kerusakan/ kelainan pada organ genetalia, melainkan karena belum habisnya pelepasan obat suntikan dari deponya
8) terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
9) pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan tulang, dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan lipido.
(Abdul Bari, 2006:MK 24)

7. Efek Samping
a. Berat badan bertambah
b. Menimbulkan nyeri kepala/ pusing
c. Perdarahan banyak saat menstruasi
d. Mudah tersinggung
e. Payudara tegang
f. Munculnya jerawat
g. Siklus haid tidak teratur
h. Tidak mendapatkan menstruasi (amenorrhoe)
i. Peningkatan tekanan darah
j. Mual muntah
k. Rambut rontok dan kering.
 (Manuaba, 1998; 445)

8. Indikasi KB Suntik Progestin
a. Usia reproduksi
b. Nulipara dan yang telah mempunyai anak
c. Menhendaki kontrasepsi jangka panjang yang memiliki efektifitas tinggi
d. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai
e. Setelah abortus/ keguguran 
f. Telah banyak anak, tetapi belum menghendaki tubektomi
g. Perokok
h. Tekanan darah <180/110 mmHg dengan masalah ganggan pembekuan darah/ anemia bulan sabit
i. Menggunakan obat untuk epilepsy
j. Tidak dapat menggunakan kontrasepsi yang mengandung estrogen
k. Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
l. Anemia defisiensi besi
m. Mendekati usia menapouse yang tidak mau/ tidak boleh menggunakan pil kontrasepsi kombinasi.
(Abdul Bari, 2006:MK 43)


9. Kontra Indikasi Suntik KB
• Hamil/ dicurigai hamil (resiko cacat pada janin 7/100.000 kelahiran)
• Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
• Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorea
• Menderoita kanker payudara/ riwayat kanker payudara
• DM disertai komplikasi
(Abdul Bari, 2006:MK 43)

10. Penatalaksanaan Efek Samping/ Komplikasi
a. Gangguan Haid
Gejala dan keluhan : amenorhoe, spooting, metroragie, menorragie
Penanggulangan :
- Konseling akibat pengaruh hormonal tidak berlangsung lama
- Depresi ingin haid beri pil KB hari I – II 2 tablet per hari selanjutnya 1 tablet per hari selama 5 hari.
b. Depresi
Gejala dan keluhan : lesu, tidak semangat dalam bekerja
Penanggulangan :
- Konseling hindari perasaan bersalah
- Pengobatan : terapi psikologis, vitamin
c. Keputihan.
Gejala dan keluhan : flour albus yang berlebihan, gangguan rasa nyaman tidak berbahaya kecuali ada bau, panas dan gatal.
Penanggulangan : 
- Konseling jarang terjadi, cari penyebabnya
- Pengobatan : konsultasi medis terapi
d. Jerawat
Gejala timbul jerawat di wajah/ badan, dapat disertai infeksi maupun tidak
Penanggulangan : 
- Konseling
- Vitamin E dosis tinggi
e. Perubahan berat badan
Gejala dan keluhan : BB bertambah setelah pemakaian KB karena sifat hormon resistensi 
Penanggulangan :
- Konseling : jelaskan efek samping suntik tapi tidak sselalu bahkan bisa terjadi sifat hormon resistensi
- Pengobatan : diet jika tidak berhasil maka ganti kontrasepsi

f. Pusing dan sakit kepala
Gejala dan keluhan : rasa berputar/ rasa sakit pada kepala
Penanggulangan :
- Konseling mungkin bisa terjadi
- Pengobatan : terapi medis prostaglandin
g. Hematoma
Gejala dan keluhan : warna biru dan nyeri akibat suntikan
Penanggulangan :
- Konseling mungkin bisa terjadi
- Pengobatan : kompres dingin


B. KONSEP MANAJEMEN KEBIDANAN

I. Pengkajian Data
Tanggal : Jam :
Tempat : Oleh :
A. Data Subyektif
1. Biodata
Penting untuk mengetahui latar belakang identitas, tingkat intelektual, status social, ekonomi berkaitan dengan rencana asuhan
2. Alasan datang
Klien KB suntik 3 bulan (kunjungan ulang)
3. Keluhan utama
Mengetahui apa yang menjadi keluhan utama pasien hingga datang ke pelayanan kesehatan
4. Riwayat kesehatan yang lalu
Untuk mengetahui ibu pernah mnederita penyakit yang merupakan kontra indikasi KB suntik atau tidak seperti hipertensi, penyakit hati, kencing manis dan penyakit jantung.
5. Riwayat kesehatan sekarang
Untuk mengetahui adanya penyakit menurun atau menular yang mnejadi kontraindikasi KB suntik
6. Riwayat Menstruasi
Untuk mengetahui adanya gangguan/ tidak selama menjadi akseptor KB, ada perdarahn diluar haid/tidak, ada nyeri/tidak selama haid
7. Riwayat pernikahan 
Merupakan data status perkawinan, lama menukah, dan usia pertama menikah
8. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas
• Kehamilan : mengkaji kondisi kehamilan anak terakhir, keluhan yang dirasakan, mendapat terapi apa
• Persalinan : mengkaji persalinan anak terakhir normal/tindakan, dalam usia kehamilan berapa bulan, bayi langsung menangis/tidak, BBL, PBL, ari-ari lahir normal/tidak, lengkap/tidak, perdarahan/tidak
• Nifas : mengkaji nifas ibuada keluhan/tidak
9. Riwayat KB
Untuk mengkaji apakah pernah menjadi akseptor KB, kalu pernah menggunakan metode apa saja, ada keluhan/tidak, untuk mengetahui alasan klien nsampai ganti cara/ metode KB
10. Pola kebiasaan sehari-hari
• Nutrisi : untuk mengetahui gizi dan keseimbangan pada konsumsi
• Eliminasi : untuk mengkaji apakah ada kelainan dalam eliminasi
• Aktifitas : untuk mengetahui apakah ada gangguan atau tidak dalam beraktifitas
• Istirahta : untuk mengkaji apakah istirahat ibu sudah tercukupi
• Seksual : untuk mangetahui ada gangguan atau tidak dalam hubungan seksual, dan untuk mengetahui apakah ibu dengan satu pasangan atau multi partner dan untuk mengidentifikasi kemungkinan timbulnya IMS
11. Data psikososial
Untuk mengetahui persepsi ibu dan keluarga tentang KB serta mengetahui motivasi ibu atau keluarga untuk menjadi akseptor
12. Data spiritual dan budaya
Untuk mengkaji keyakinan klien tentang KB apakah ibu menentang  atau tidak dan bagaimana dengan kondisi adat istiadat.

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
BB :
TD : 100 / 60 – 140 / 90 mmHg
Nadi : 70 – 80 x/menit (teratur)
RR : 18 – 24 x/menit (teratur)
Suhu : 36 - 37o C ( Axilla )
2. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Rambut : warna bersih, tidak rontok
Muka : tidak pucat, tidak odema dan bentuk muka
Mata : simetris, konjungtiva tidak pucat, sclera tidak icterus
Hidung : simetris, tidak ada secret, tidak ada pernafasan cuping hidung
Mulut : bibir tidak pucat, tidak pecah-pecah (tidak stomatitis), tidak ada canes gigi
Telinga : simetris, tidak ada serumen
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada bendungan vena jugularis
Dada : Payudara simetris, tidak ada kelainan / pembesran, colostrum -/-
Abdomen : tidak ada bekas operasi
Genetalia : bersih, tidak ada tanda cedwic
Ekstermitas : simetris turgor baik, odema, varises -/-

b. Palpasi
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada bendungan vena jugularis.
Payudara : kenyal, tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan, colostrums -/-
Abdomen : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran limfe dan hepar, tidak ada benjolan

c. Auskultasi
Dada : tidak ada wezhing dan ronki

d. Perkusi 
Perut : tidak kembung
Ekstermitas : reflek patella : +/+
II. Identifikasi Diagnosa dan Masalah
Diagnosa : Akseptor KB suntik 3 bulan (Depo Progestin)
Ds : …
Do : KU : Baik
Kesadaran : Composmentis
BB : …
TD : 100/60 – 140/90 mmHg
Nadi : 70 – 80 x/menit (teratur)
RR : 18 – 24 x/menit (teratur)
Suhu : 36 - 37o C ( Axilla )



Masalah

a. Gangguan siklus haid / amenore
Ds : ibu mengatakna tidak haid selama ikut KB
Do : HPHT 
b. Perubahan BB (naik/turun)
Ds : ibu mengatakan akhir-akhir ini berat badannya bertambah/ menurun
Do : BB dulu dan sekarang
c. Pusing / sakit kepala / migran
Ds : ibu mengatkan selama ikut KB suntik ibu sering merasa pusing
Do : ibu tampak menahan kesakitan pada saat TTV
d. Spotting
Ds : ibu mengatakan selama ikut KB suntik mengelurkan perdarahan bercak/flek
Do : anemis/tidak 

III. Intervensi
Diagnosa : Akseptor KB suntik 3 bulan (Depo Progestin)
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan KB suntik 3 bulan (Depo Progestin) obat dapat bereaksi dan tidak terjadi komplikasi
Kriteria Hasil :
- TTV dalam batas normal
- Ibu tidak mengalami keluhan
- Tidak terjadi infeksi pasca penyuntikan
- Tidak terjadi abses


Intervensi
1. Lakukan pendekatan dengan klien
R/ Klien lebih kooperatif terhadap tindakan yang kita lakukan
2. Tanyakan keluhan pada klien
R/ Klien mendapat penanganan sesuai dengan keluhan
3. Lakukan pemeriksaan TTV dan jelaskan hasilnya pada klien
R/ Deteksi dini kelainan dan ibu menjadi mengerti dan mengetahui keadaannya
4. Siapkan lingkungan dan pasien
R/ Menjaga privasi dan kenyamanan pasien
5. Siapkan alat
R/ obat dapat bereaksi

6. Beritahu jadwal kontrol dan suntikan berikutnya
R/ mendapatkan suntikan tepat pada waktunya
7. Lakukan pencatatan pada buku register
R/ Untuk pendokumentasian
8. Berikan KIE KB suntik
R/ Ibu mengetahui apa yang akan dialaminya setelah KB suntik

Masalah 
1) Gangguan siklus haid / amenore
Tujuan : klien dapat mengerti adanya efek samping yang terjadi
Kh : klien lebih tenang dan dapat menerima efek samping KB suntik
Intervensi
a. Jelaskan kepada ibu tentang efek samping dari KB suntik
R : tingkat pengetahuan ibu bertambah sehingga ibu bisa lebih kooperatif
b. Anjurkan kepada ibu untuk konsumsi makanan gizi seimbang
R : input yang cukup membantu proses perbaikan sel_sel tubuh yang rusak
c. Lakukan pengobatan jika terjadi komplikasi yang berlanjut
R : penanganan yang tepat menghindari terjadinya komplikasi yang berlanjut
2) Perubahan BB (naik/ turun)
Tujuan : tidak terjadi penambahan/penurunan BB 
KH : BB ibu tetap tidak terjadi gangguan body image pada ibu, penambhan tidak lebih dari 1 Kg per bulan
Intervensi
a. Jelaskan pada ibu bahwa penambahan BB tidak selalu terjadi
R : setiap individu berbeda-beda tergantung kadar hormone progesterone yang dapat mempermudah perubahan karbohidrat dan gula menjadi lemak yang tersimpan di bawah kulit juga hormone progesterone dapat merangsang nafsu makan
b. Sarankan diet rendah kalori
R : diet dapat mengganggu karbohidrat masuk dalam tubuh sehingga tubuh memetabolisme cadangan lemak di bawah kulit sehingga BB berkurang
c. Sarankan olah raga teratur
R : olah raga teratur minimal 15 menit perlu tenaga yang lebih dimana diperoleh metabolisme lemak di bawah kulit ( membakar lemak dalam tubuh )


3) Pusing / sakit kepala / migran
Tujuan : klien bisa menerima dan mampu mengatasi pusing
KH : pusing berkurang sampai hilang
Intervensi
a. Jelaskan pada klien pemakaian KB suntik dapat menimbulkan pusing
R : pusing terjadi akibat ketidakseimbangan hormone di dalam tubuh klien berakibat berpengaruh pada vaso kontriksi pada pembuluh darah sehingga aliran darah yang membawa O2, makanan ke otak berkorang sehingga terjadi pusing
b. Ajarkan klien teknik distraksi
R : dengan teknik distraksi klien dapat mengalihkan rasa pusing ke hal-hal yang lebih positif
c. Ajarkan klien teknik relaksan
R : teknik relaksasi melancarkan peredaran darahsehingga rasa nyeri berkurang
4) Spooting
Tujuan : tidak terjadinya spotting
KH : perdarahan berhenti
Intervensi
a. Jelaskan pada ibu bahwa pemakaian KB suntik yang menimbulkan gejala spooting
R : kontrasepsi suntik dapat menimbulkan perubahan-perubahan. Suasana endometrium pada fase proliferasi, fase sekresi sampai atrofi dari endometrium sehingga menimbulkan spotting
b. Motivasi agar tetap menggunakan KB suntik 
R : terjadi spotting tidak terlalu berbahaya bagi klien
c. Berikan pil kombinasi
R : pemberian pil kombinasi, keseimbangan hormone estrogen progesterone dalam tubuh klien dapat terjadi sehingga spotting dapat berhenti


IV. Implementasi
Sesuai dengan intervensi

V. Evaluasi
Merupakan penilaian dari seluruh tindakan yang dilakukan minimal menggunakan metode SOAP.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Bari, Saifudin. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan  Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina  Pustaka.

Prawihardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Manuaba. 2007. Operasi Kebidanan, Kandungan, dan KB. Jakarta: EGC.

Varney,  Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC.